Roda Kehidupan Terus Berputar

No comment 2247 views

Setelah berkeliling kesana kemari sampai tersasar ke daerah yang tidak berpenghuni, akhirnya, alamat rumah yang hendak kami tuju dapat kami temukan. Di hadapan kami  berdiri sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Jarak rumah itu dengan rumah tetangga lainnya kira-kira 30 meter-an. Sekelilingnya pohon-pohon besar dan alang-alang. Sebetulnya mataku ingin menyapu sekeliling rumah itu, namun karena pada saat itu kami tiba dilokasi pada malam hari maka sedikit menyulitkanku untuk melihat dengan lebih jelas apa-apa yang  ada di seputarannya.

Segera saja kami hampiri pintu rumah tersebut dan kami ketuk. Sesosok tubuh lelaki setengah tua keluar. Dengan rambut uban yang hampir memenuhi kepalanya dan beberapa kerutan yang terlihat di sepanjang sisi tangannya. Aku melihatnya  seolah ia bukan lelaki yang dulu pernah kami kenal 7 tahun lalu.

Kami mengenal lelaki itu pernah menjabat sebagai manajer pada salah satu perusahaan besar di negeri ini tujuh tahun lalu. Gaji tinggi yang melebihi standard perusahaan lain dapat ia nikmati setiap bulannya. Sebuah mobil mewah keluaran eropa adalah tunggangan sehari-harinya yang siap mengantarnya kemana pun ia pergi. Rumah besar dan mewah juga dulu pernah ia miliki. Tapi sekarang, aku memandang rumahnya tidak lebih layak dari karyawan staf di kantor kami. Sebuah rumah kecil di pinggiran bekasi, yang untuk menjangkaunya saja perlu waktu yang cukup lama, karena akses jalan kesana agak sulit , dengan jalan berbatu dan tak beraspal yang harus dilalui. Bahkan yang kudengar juga, rumah yang ditinggalinya sekarang ini bukanlah rumah milik sendiri tapi mengontrak dari orang lain.

“ Ada apa ya?”. Katanya datar

“Oh, nggak pak, kami Cuma mengantarkan undangan” . Jawab salah satu temanku

“Lho kamu Ujang, kan ?”. Katanya lagi setelah memperhatikan cukup lama wajah dari salah seorang temanku

“Betul Pak. Kami dari kantor sengaja datang kesini mau menyampaiakan undangan pernikahan ini”. Jawab temanku lagi sambil menyodorkan secarik undangan pernikahn itu.

“ Oh, kirain saya ada apa. .Mari masuk”. Katanya mempersilahkan kami

Segera saja kami, aku dan tiga orang temanku, beriringan masuk kedalam. Saat kami berada di dalam, terlihat pemandangan ruang tamu yang begitu berantakan. Bangku-bangkunya berserakan tak beraturan. Sementara bau asap  rokok menyengat mengisi seluruh ruangan. Pada dinding temboknya yang kusam tergantung foto ukuran besar si tuan rumah bersanding dengan seorang wanita anak mantan penguasa negeri ini yang telah lengser setelah bertakhta selama 32 tahun. Mungkin saja ia ingin menunjukkan  sisa-sisa kejayaan masa lalunya.

Pembicaraan kami buka dengan menanyakan kabar masing-masing. Setelah itu kami menyampaikan maksud kedatangan kami yang ingin mengantarkan undangan pernikahan salah satu kawan kantor kami. Sementara itu ditengah pembicaraan , sang istri terlihat berjalan mondar-mandir dengan wajah tegang. Diwajahnya terlihat ada sesuatu yang membuat ia khawatir. Kami juga bingung melihat ia seperti itu. Melihat istrinya demikian, sang suami menjelaskan kepadanya akan maksud kedatangan kami. Barulah setelah dijelaskan, ketegangan yang tampak pada wajahnya mulai mengendur dan terlihat ia  menarik nafas lega.

Ternyata dari penjelasan sang istri, ia memiliki trauma yang begitu dalam kalau melihat orang-orang yang berasal dari bekas kantor suaminya datang mencari suaminya. Dia khawatir masalah yang pernah menjerat sang suami dulu masih diungkit-ungkit lagi.

Tidak berapa lama, mengingat malam yang semakin larut dan juga bau asap rokok yang menyengat memenuhi ruangan yang  mengganggu pernafasan kami, akhirnya, kami memutuskan untuk menyudahi pembicaraan dan pamit untuk pulang pada tuan rumah.

Sepanjang perjalanan pikiranku tak pernah berhenti menerawang memikirkan pertemuan dengan lelaki itu. Banyak yang aku tidak sangka-sangka melihat perubahan yang terjadi padanya. Dari mulai penampilannya sampai kondisi ekonomi keluarganya. Dulu ia dikenal sebagai lelaki perlente. Apabila ada barang-barang mewah keluaran terbaru, ia pasti termasuk orang yang pertama kali memilikinya . Kedekatannya dengan kalangan orang berpunya pada zaman orde baru semakin membuat status derajat hidupnya  berada jauh di depan dibanding kawan-kawan selevelannya di kantor. Sebuah keberuntungan yang belum tentu dimiliki sembarang orang pada saat itu.

Tapi kini, tak ada satupun pekerjaan yang ia jalani. Profesinya sekarang hanya seorang penganggur. Ekonominya sehari-hari dibantu anak sulungnya yang sudah bekerja. Tubuhnya yang dulu besar dan kekar kini terlihat kurus dan tak terawat. Begitupun sang istri. Wajah cantik dengan dandanan ‘wah’ yang dulu sering ia tampilkan apabila ada acara family gathering perusahaan tak tampak lagi. Kini dandanannya seadanya sama seperti ibu-ibu yang tinggal di perkampungan. Baju yang dikenakannya pun bukan baju yang mahal.

Benar kata orang, kehidupan laksana roda. Kadang kita bisa berada di atas kadang pula bisa di bawah. Pada satu kasus biasanya orang akan  lebih siap dan tangguh ketika berada pada kondisi di bawah. Tapi pada saat kondisi kita diatas, seringkali diri tidak siap menjaga amanah dari yang Maha Kuasa untuk menjaga anugerah berupa kemudahan-kemudahan yang diberikan terutama yang bersifat materi.

Perjalanan hidup lelaki itu membuktikan hal tersebut. Saat dirinya berada dipuncak, dia tidak mampu mengelola dirinya. Kepuasaan baginya adalah sesuatu yang tidak terbatas. Tidak ada kamus cukup bagi dirinya.  Gaji yang didapat dia rasakan tidak mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Padahal kalau dikalkulasi, pendapatan yang didapat mungkin bisa sepuluh kali lipat pendapatanku .

Hingga datanglah bencana itu. Godaan harta yang menghampirinya tak mampu ia tepis. Saat dirinya diberi amanah oleh perusahaan untuk menggurusi pembelian hewan qurban untuk disumbangkan masyarakat sekitar kantor, ia malah menghianatinya. Digelapkannya uang perusahaan senilai ratusan juta rupiah, yang harusnya untuk membeli lima puluh ekor sapi, malah hanya dibelikan 10 ekor saja.

Mungkin karma atau apa. Keburukannya segera saja tersingkap. Hasil audit dan penyelidikan dari perusahaan memutuskan vonis salah untuk dirinya.. Maka setelah itu, pencopotan atas dirinya pun segera dilakukan, walaupun pemecatan atas dirinya tidak langsung dilakukan. Dia tidak dipercaya lagi memimpin divisi yang dulu ia pernah menjadi komandannya. Sebetulnya bukan kasus penggelepan uang qurban saja yang menjadi dasar pencopotan dirinya, tapi kasus-kasus penggelapan lain banyak ditemukan dimana tersangkanya hanya tertuju pada dirinya. Maklum saat itu ia menempati posisi pada “divisi basah” dimana controlling terhadap uang keluar tidak begitu terlalu ketat. Atas nama biaya representasi, uang begitu saja mudah keluar tanpa perlu bukti pertanggung jawaban yang harus diserahkan pada perusahaan.

Setelah peristiwa pencopotan dirinya, musibah buat dirinya tidak berhenti begitu saja. Dalam masa pen-nonaktifan dirinya, mobil mewah yang selalu mengantarnya  kemana pun ia pergi, tanpa diduga-duga terbakar di Jagorawi saat ia kendarai.. Untung saja saat itu dirinya tidak mengalami suatu luka apapun.  Tapi peristiwa terbakarnya mobilnya itu,  semakin menguatkan gunjingan orang-orang kantornya atas dirinya, bahwa ia tengah ‘menikmati’ karma akibat penyelewengannya dulu. Dan tentu saja hal itu semakin menambah beban moral pada dirinya.

Belum lagi musibah susulan yang kemudian menimpanya.. Salah satu anaknya menderita penyakit ganas, leukemia, dan pengobatannya menguras biaya yang cukup besar sehingga mengurangi pundi-pundi kekayaannya. Satu persatu barang mewah yang dimilkinya di jual untuk menutupi biaya pengobatan anaknya.

Mungkin karena tidak kuat menanggung malu, akhirnya ia putuskan resign (mundur) dari tempatnya bekerja, dengan alasan ingin merawat anaknya yang tengah sakit keras dan juga karena ia takut mengganggu kinerja perusahaan karena ketidak hadiran dirinya. Permintaannya pun di kabulkan. Dan setelah pengunduran dirinya  kabarnya tidak pernah terdengar lagi sampai kami bertemu dengannya malam itu dengan kondisi kehidupannya yang sekarang.

Potret kehidupan manusia dari zaman manapun harus senantiasa kita perhatikan agar bisa kita jadikan pelajaran buat kita. Pelajaran kehidupan dari kisah hidup lelaki itu dapat kita ambil sebagai renungan bahwa kita harus selalu berhati-hati dalam mengelola kehidupan. Bagaimana seharusnya kita bersikap pada saat berada di puncak, dan juga bagaimana  seharusnya kita mengambil langkah pada saat berada pada kondisi di bawah. Siapa yang bisa menyangka perjalanan hidupnya bisa seperti itu. Dulu hidup bergelimang harta, sekarang hidup dalam kondisi yang mungkin tidak akan ia inginkan sebelumnya.

Senantiasa bergantung dan bersyukur kepada yang Maha kuasa adalah kunci keselamatan dalam hidup. Saat kita diberikan anugerah yang begitu banyak melebihi orang lain, sikap tetap bergantung dan bersyukur padaNya justru akan semakin menambah kekayaan yang akan kita miliki, terutama dari segi kekayaan hati. Bukankah Allah sendiri berjanji akan menambah nikmatNya selama kita bersyukur kepadaNya?. Dan Dia akan memberikan adzab yang pedih seandainya kita kufur atas segala  nikmatNya.

Cukuplah Qarun, Tas’labah dan kisah hidup orang-orang semacam mereka yang hidup di belahan bumi manapun dan zamanpun bisa menjadikan kita untuk senantiasa eling dan tidak terjerumus kedalam lubang yang pernah mereka gali. Harta pada dasarnya adalah titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh yang punya, yaitu Allah Sang Pemilik segalanya.. Dan kita hanya dituntut untuk mencari harta yang baik dan juga halal. Kalau dalam bahasa Alqur’an harta yang halalan thoyyiban. Karena harta yang didapat dengan jalan yang menurut kita baik belum tentu itu halal. Atau harta yang halal belum tentu itu baik buat kita. Dan yang terpenting lagi adalah  kesiapan sikap kita seandainya harta kita, entah yang berupa materi atau anak keturunan diambil olehNya. Jangan sampai sikap yang kita ambil  dalam menghadapai kondisi seperti itu malah semakin menenggelamkan kita kedalam murkaNya

Keheningan dalam kendaraan selama perjalanan pulang memberikan kesempatan buatku untuk bertaafakkur kepadaNya. Banyak hal-hal yang bisa aku ambil dari kisah lelaki itu dalam menjaga semangat dalam merealisasikan cita-citaku ke depan.. Menjadi kaya adalah sebuah goal yang ingin aku capai. Tapi tentu saja kaya yang bisa menyelamatkanku dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Kisah itu juga akan mengingatkanku untuk selalu yakin bahwa roda kehidupan pasti akan berputar. Yang dulunya bisa diatas, atas kehendak Allah bisa langsung terjerambab turun atau sebaliknya.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber :  sekolahkehidupan.com )

author