Saya Suka Jadi Ibu karena

No comment 517 views

Pertanyaan itu muncul di salah satu grup parenting yang saya follow… sebaris kalimat yang dijawab dengan banyak sekali komentar bervariasi tetapi memiliki satu kesamaan “anak-anak=cinta dan kasih sayang”

Ya, menjadi ibu mengubah hidup saya, mengubah prioritas saya dan bahkan membalikkan cita-cita saya. Bukan ke arah negatif tapi justru ke arah yang positif. Anak-anak saya membuat saya memilih jalan hidup berbeda dengan cita-cita saya tetapi kebahagiaan karena memilih jalan ini jauh lebih besar.

Anak-anak tak mau saya bekerja di luar rumah, tapi berkat mereka dan keunikannya, saya memiliki banyak cara mengaktualisasi diri. Dari menemukan hobi-hobi baru yang menyenangkan seperti memasak kue, membuat boneka (karena ingin hemat) dan terakhir tulisan saya berawal dari anak-anak, berawal dari kumpul mama-mama yang saling curhat urusan anak.

Dan mereka pula yang membuat saya mendapatkan banyak rezeki. Saya jadi punya banyak teman dari mulai guru-guru mereka, teman sesama wali murid sampai dokter yang mengurusi anak-anak.  Banyak teman, jadi banyak ilmu kan?. Saya juga disayang suami karena memilih mengurus anak-anak sendiri daripada bekerja (toeng!!) dan rezeki keuangan yang tak pernah putus karena anak-anak membuat saya bisa membuat kue dan sering menerima pesanan kue, membuat bando-bando cantik yang awalnya saya buat untuk putri saya yang manis  dan terakhir… mungkin suatu hari nanti (atau beberapa bulan lagi) novel pertama saya akan dicetak (hehe… doain yaaa!). Rezeki keempat, kelima dan entah berapa banyak rezeki telah mengisi hidup saya. Dan rezeki terbesar adalah kebahagiaan memiliki anak-anak saya.

Saya malah tak tahu nanti bagaimana hidup saya tanpa mereka karena baru membayangkan membiarkan putri saya masuk pesantren saja, saya sudah sibuk mencari rumah di samping pesantrennya (hehe….!). Malah kalau sedang memeluk mereka terutama putri-putri saya,  saya sering berbisik seperti ini, “jangan nikah muda seperti mama ya nak, menikahnya tunggu mama gak ada aja… soalnya mama gak bakal tahan ditinggal kalian” Kalau soal si abang, tenang aja… kami sudah sepakat soal pencarian jodohnya. Heran ya, saya kok sudah mengatur masa depan anak-anak.  Tapi tentu saja masa depan mereka tetap milik mereka, saya hanya ingin mereka tahu betapa berat bagi saya melepas mereka nanti. Habis mau bagaimana lagi saya mengekspresikan arti anak bagi saya. Anak-anak saya adalah jantung saya, otak saya, kaki dan tangan saya, indera saya serta jiwa saya.

Dibanding mengajar anak-anak, saya justru banyak belajar dari mereka. Saya belajar bahwa menjadi contoh itu tidak mudah. Anak-anak membuat saya belajar menjadi ibu sebaik-baiknya melalui praktek bukan dengan mulut. Suami pernah bilang anak-anak itu adalah perhiasan dunia. Maksudnya jangan karena anak-anak, kita justru melupakan Allah. Tapi saya merasa justru karena anak-anaklah, saya menjadi lebih dekat kepada Allah. Saya dan suami bahkan membuat banyak kebiasaan baru agar anak-anak terbiasa dekat dengan Allah, satu-satunya penolong mereka saat mereka nanti berpisah dari kami kelak.

Kalau dulu kami sholat masing-masing, justru karena ingin membiasakan si abang qomat dan ade belajar sholat sekarang kami terbiasa sholat bersama meskipun banyak sekali hal lucu terjadi misalnya ketika ade jadi pandai qomat dengan bahasa yang tak jelas tapi nadanya sesuai banget, tetangga sampai heran karena setiap kali Abang qomat ada suara qomat bahasa asing yang mengiringinya.

Satu lagi pelajaran dari anak-anak, saya yang tadi cuek abis dengan lingkungan sekarang belajar lebih peduli pada orang-orang di sekitar saya. Saya lebih peduli pada orangtua karena memahami betapa tak mudahnya menjadi orangtua, saya lebih peduli pada anak-anak orang yang saya temui di jalan, menegur mereka kalau melakukan sesuatu yang berbahaya karena saya ingin anak-anak saya juga dijaga orang seperti itu ketika mereka lalai tanpa pengawasan saya dan bahkan saya lebih peduli dengan para penjual langganan saya di pasar, karena saya ingin benar-benar membuat masakan dari bahan-bahan yang bukan dengan “tambahan” zat-zat kimia berbahaya dan salah satu cara selain cara yang diajarkan di televisi adalah mengenal pribadi penjualnya dan ehem… .selain itu saya juga jadi sering dapat diskon..

Jadi saya menulis di komentar facebook seperti ini :

“sy suka jadi mama, krn anak-anak adalah tantangan yang selalu baru setiap harinya, kritikus jujur dan kritis dan merekalah sumber inspirasi saya.”

Kalau Bunda-bunda lain… kira-kira apa ya?? Oh ya… Ayah ayah juga boleh ikutan, tinggal nerusin aja ” saya suka jadi Ayah karena”

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : bundaiin.blogdetik.com )

author