Sebait Makna Syukur

No comment 472 views

Mungkin diri yang terlalu dini dalam memahami berbagai makna hidup dalam lingkaran hukum alam sebagai landasan dalam perjalanan menggapi titik kebenaran, akan tetapi sebagai awal dari sebuah renungan tiadalah salah jika diri ini mencoba mengalir dalam bait-bait hakikat untuk menyelaraskan perjalanan syariat.

::: Hidup adalah suatu keindahan yang harus diterima dengan keindahan maka perjalanan sesuatu yg indah akan selalu indah
::: Hidup adalah sebuah anugerah yang harus tersadarkan pada makna dari anugerah itu sendiri sehingga apapun rotasi dalam hidup senantiasa menemukan titik ridho dalam makna jiwa.

::: Hidup adalah sendagurau yang harus dijalani dalam ruang jiwa yang membiaskan energi kemerdekaan dalam keterikatan dengan segala sendi tatanan dan struktur sosial hidup hingga bermuara pada kebahagiaan dan syukur yang hakiki.

::: Hidup haruslah paham akan muara hidup sehingga sadar jika hidup hanyalah untuk Tuhan semata.

Didalam keindahan hidup, akan mekar kuntum anugerah yg cemerlang dengan bias energi kedamaian sehinga senda gurau dapat dilakoni dalam tatanan kesadaran lalu memahami akan tujuan dan muara hidup.

Tuhan adalah Muara hidup, Ia sandingkan keindahan pada tatanan kehidupan agar kita dapat bersenda gurau dalam menikmati hidup sebagai makna anugerah, namun kadang kita tidak menyadari dan keliru untuk melakoni hidup. Bahkan kadang kita sering salah dalam ber-Tuhan namun kita tidak sadar akan kesalahan tersebut. Kita hanya mampu memandang, namun tak melihat secara utuh pada setiap falsafah hidup yang kita lalui, kita hanya bisa bicara namun tak mampu membahasakan dengan sempurna akan makna terdalam yang mengalir di balik jiwa.

Yang kita lakoni hanyalah sebatas syukur dibalik ketidak sempurnaan lakon syukur yang kita persembahkan. Kadang aku mendengar mereka bicara tentang berbagai falsafah hidup, ada yang memahami karena mereka mengalami, ada yang sebatas mendengar karena baru melangkah ke gerbang pemahaman, namun ada yang begitu banyak bicara walau tak menyadari jika sesungguhnya Ia belum memahami sedikitpun falsafah hidup yang sesungguhnya. Falsafah hidup bertajuk syukur adalah sebuah implementasi hidup yang melibatkan Tuhan dalam setiap irama hidup secara total dan mutlak adanya, sehingga hidup adalah hidup yang seirama dengan anugerah keilahian yang senantiasa mengalir setiap saat lalu mengarah pada kesempurnaan esensi hidup dalam rasa yang tak terdefinisikan maknanya.

Kita akan membaca segala kehendak Tuhan yang mengalir dari balik jiwa kita, lalu kitapun menjadi penonton akan berbagai lakon hidup kita dalam menjalani kehendak Tuhan, lakon itu begitu nyata dan kita pahami dengan kesadaran hati yang sempurna, kita merasa begitu bahagia menjalaninya. Kadang jika ada ketidak sempurnaan lakon itu maka Tuhan menghadirkan lakon-lakon yang dibawa oleh orang lain untuk melengkapinya dan kita berada pada posisi manajerial akan lakon tersebut karena kita memahaminya, dan akhirnya kita membuktikan dengan nyata akan segala kesempurnaan firman Tuhan. (maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?)

Dan ini sangatlah berbeda jika kita tidak sampai pada pemahaman yang sempurna, kita hanya berada pada elemen terendah dalam falsafah hidup, namun kita merasa sudah sempurna dalam memahami ; memahami tentang hidup dalam syukur padahal sesunggunya tidak demikian. Syukur yang terpatri masihlah bersifat egosentris, dimana ketika jiwa memancarkan ego sebatas menerima hal-hal yang dipandang baik dan enggan menerima hal-hal yang kurang baik. Untaian syukur dilakukan sepenuh hati namun sebatas pada lantunan dan ucapan syukur dalam rangkaian kalimat do’a tulus. Dan tidak pada taraf kesadaran akan lakon diri dalam makna syukur.

Ketika diperhadapkan pada sebuah fenomena hidup, ego kembali muncul dalam merangkai do’a untuk menepis apa yang ada agar secepat mungkin berlalu, disinilah jiwa kehilangan kesempatan dalam membaca dan melakoni dengan sempurna akan makna hidup. Dan semua ini terjadi lantaran kita salah dalam memahami kehendak Tuhan, kita keliru mengerti makna hidup, bahkan kita cenderung SALAH DALAM BER-TUHAN.

Kita menempatkan Tuhan sebagai sosok yang lebih untuk di takuti dari pada untuk dicintai, akhirnya segala evolusi hidup kita sebatas pada takut akan kekejaman Tuhan dengan berbagai siksaan. Kita takut pada Tuhan lalu kita pun terjebak untuk membayar ketakutan kita dengan nilai ibadah yang mengandung konsekwensi pada kenikmatan syurga dan beranggapan Tuhan telah menerima kita.
Pada tatanan ini kita merasa paham tentang “apa itu Tuhan?” Yang maha pengasihkah..? padahal itu baru sebatas sifat-sifat Tuhan. Yang maha Memelihara? Padahal itu baru sebatas perbuatan Tuhan. Lantas apakah itu Tuhan?, yang dimanapun wajah dihadapkan disitu terlihat wajah Tuhan?

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author