Sebuah Mimpi Aneh

No comment 983 views

Ketika kuterbangun, entah kenapa di sekelilingku hanya ada warna putih. Tidak ada orang dan benda, hanya aku sendirian. Tempat apa ini? Apa ini surga? Aku teringat saat-saat sebelum aku terbangun di tempat ini. Perutku tiba-tiba terasa sangat sakit. Teman-teman tampak ketakutan dan aku pun terjatuh, tak sadarkan diri. Ketika aku sadar, ibuku sudah ada di sampingku. Ia mengatakan usus buntuku bengkak dan harus segera dioperasi. Setelah itu, aku kembali tak sadarkan diri.

Kuberanikan diri untuk melangkah di dunia serba putih ini. Kalau ini adalah surga, kenapa tempat ini sepi sekali? Aku terus melangkah. Entah sudah berapa lama aku berjalan. Herannya, aku tidak merasakan lelah.

Langkahku terhenti ketika aku melihat sesosok manusia sedang duduk di sebuah bangku. Perlahan-lahan kudekati sosok itu. Ternyata itu adalah seorang pria dan aku tahu siapa dia. Dia adalah Kak Ady, kakak kelasku. Dia adalah kapten tim basket di sekolahku dan dia sangat populer. Banyak teman yang mengidolakannya, aku juga salah satunya. Tapi seminggu yang lalu ia mengalami kecelakaan dan mengalami gegar otak. Ia koma selama seminggu. Lalu kenapa aku bisa bertemu dengannya di sini?

Kak Ady yang dari tadi termenung langsung tersadar ketika melihatku mendekat. Aku terdiam. Kak Ady memandangku dengan penuh keheranan dan ia berdiri.
“Kamu…”, kata Kak Ady ragu. Ia mendekatiku dan mengamatiku.
“Kau benaran manusia?”, tanya Kak Ady ragu.

Aku Cuma mengangguk. Kak Ady tertawa lega. “Syukurlah, kupikir aku akan terus-terusan sendiri di tempat ini”.
“Tempat apa ini, Kak?”, tanyaku pelan.
“Aku juga tidak tahu”, jawab Kak Ady sambil memandang sekitarnya dan ia kembali duduk.

“Duduklah…”, kata Kak Ady dan tiba-tiba muncul sebuah bangku di sebelahnya. Aku terpana.
“Tempat ini sangat aneh, ketika aku ingin sesuatu selalu saja apa yang kuinginkan muncul begitu saja”, kata Kak Ady.
“Kalau aku ingin duduk, pasti muncul bangku. Kalau aku ingin membaca, pasti muncul buku”.

Aku pun duduk di bangku yang tiba-tiba muncul itu.
“Hanya saja, kalau aku ingin bertemu orang, tidak ada orang yang muncul”, lanjut Kak Ady.
“Apa ini surga? Karena yang terakhir kuingat, aku sedang dioperasi untuk membuang usus buntuku”, jawabku.
Kak Ady terdiam.

“Aku tahu, kakak mengalami kecelakaan minggu lalu dan tidak sadarkan diri selama 1 minggu”, jawabku.
Kak Ady tampak sedikit terkejut. Ia tertawa kecil.
“Aku tak menyangka, kau tahu aku.”
“Bagaimana tidak tahu… Kakak kan sangat terkenal di sekolah”, jawabku.
Kak Ady kembali tertawa.
“Rupanya aku segitu populernya”, katanya.
“Aku sering melihat kakak bermain basket”, kataku malu-malu.
Kak Ady berdiri dan ia tersenyum. “Bagaimana kalau kita bermain basket?”, ajaknya.
Belum sempat aku menjawab, sebuah ring basket muncul dan tangan Kak Ady memegang sebuah bola basket.
“A-aku tidak bisa bermain basket. Di sekolah, nilai olahragaku tidak bagus”, jawabku.

Kak Ady kembali tersenyum. “Di sini, kau tidak perlu memikirkan nilai olahragamu…”, katanya dan ia memantulkan bola basket ke tanah, menangkapnya dan memasukan bola ke dalam ring. Lalu ia melemparkan bola basket itu kepadaku.
“Cobalah kau lempar bola itu ke ring”, kata Kak Ady.

Kupandangi bola basket di tanganku dan langsung kulemparkan bola itu. Bola itu masuk ke dalam ring. Berkali-kali kulemparkan bola itu, selalu saja masuk, tidak ada yang tidak masuk. Kak Ady tertawa ketika aku memandangnya tidak percaya. Ia mendekatiku dan mengambil bola dari tanganku.

“Sudah kubilang kan? Disini nilai di sekolah itu tidak penting. Jadi bagaimana? Kita bermain bersama”, ajaknya dan aku mengangguk.
Kami pun bermain basket. Herannya, aku yang sangat payah dalam bermain basket bisa menjadi hebat bermain.
Kami bermain cukup lama tapi kami tidak kecapean, bahkan tidak satupun keringat menetes di tubuh kami.
Tak lama, kami pun berhenti dan kami duduk di lantai yang putih bersih.

“Mungkin ini adalah dunia mimpi, Kak”, kataku.
“Mimpi?”
“Iya. Karena tempat ini terlalu aneh. Aku yang tidak bisa basket saja bisa tiba-tiba menjadi seperti atlet basket.”

Kak Ady tertawa dan berkata, “Kalau ini memang mimpi, aku berharap ini bisa jadi kenyataan”.
“Iya, bayangkan kalau kita tidak pernah kecapean dan apa yang kita pikirkan langsung muncul di hadapan kita”, kataku semangat.
“Aku berharap bisa bermain denganmu di dunia nyata, Lucia”.
“Eh?”, aku terkejut ketika Kak Ady menyebut namaku, tapi tiba-tiba semua menjadi putih dan kututup mataku karena silau.

Aku ada di dalam kamar di rumah sakit ketika kubuka mataku. Mimpiku aneh sekali, kenapa aku bisa memimpikan Kak Ady? Ibuku masuk ke dalam kamar dan ia gembira ketika melihatku sudah sadar. Operasi usus buntuku sukses tapi aku harus beristirahat dulu di rumah selama seminggu. Teman-teman membesukku selama seminggu itu dan ada yang memberikanku catatan pelajaran selama seminggu ini.

Ketika masuk sekolah, Merry, sahabatku menyambut dengan gembira. Ia bercerita banyak hal tentang sekolah selama satu minggu ini.

“Kudengar Kak Ady sudah sadar 1 minggu lalu, dia sudah pulang rumah”, mendengar nama Kak Ady, jantungku berdebar. “Tapi dia belum masuk sekolah karena ia mengalami amnesia”.
“Amnesia?”
Merry mengangguk. “Kak Ady dirawat di rumah sakit yang sama denganmu dirawat lho”.
“Bagaimana kau tahu?”

“Waktu aku membesukmu, aku bertemu dengan teman-teman Kak Ady dan mereka mengatakan kalau Kak Ady dirawat disitu juga”.
Selama pelajaran, aku tidak bisa konsentrasi. Aku teringat tentang mimpiku bersama Kak Ady.
Mimpi yang aneh, padahal bicara dengan Kak Ady saja aku tidak pernah.
Andai apa yang dikatakan Kak Ady itu adalah benar, aku berharap bisa bermain denganmu di dunia nyata. Mengingat itu membuatku tersenyum.

Sebulan berlalu. Merry tampak sangat heboh ketika aku masuk kelas.
“Kak Ady sudah masuk, lho!”, beritahunya.
“Oh ya?”
“Lihat tuh”, Merry menunjuk ke arah seberang. Benar juga, aku melihat Kak Ady bersama teman-temannya sedang bercanda ria.
Mata Kak Ady tiba-tiba beradu denganku. Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku. Kak Ady tetap bercanda dengan teman-temannya, padahal dalam hati, aku berharap Kak Ady menghampiriku.

Sepulang sekolah, aku masih di dalam kelas. Aku menunggu ayahku menjemput. Tadi ayah meng-sms bahwa hari ini agak terlambat menjemput, jadi kuputuskan menunggu di dalam kelas saja. Aku terkesiap ketika melihat Kak Ady ada di depan pintu kelasku. Ia tersenyum kepadaku. Aku mencoba membalas senyumannya tapi sepertinya senyumanku terlalu kaku.

“Belum pulang?”, tanya Kak Ady. Aku menggeleng, “Ayahku sedikit terlambat hari ini”.
Kak Ady melangkah masuk ke dalam kelasku. Jantungku berdebar-debar dibuatnya. Ia pun duduk di sampingku. “Kakak sendiri belum pulang?”
“Masih ada urusan yang belum kuselesaikan”, jawabnya.
Ini benaran, aku bicara dengan Kak Ady. Ini tidak ada di dalam mimpi lagi.

“Aku….”, kata Kak Ady. “Kau tahu, waktu aku tidak sadar di rumah sakit, aku bermimpi tentang kau… padahal aneh, mengobrol saja kita tidak pernah”.
Aku terpana mendengar kata-kata Kak Ady itu.
“Jadi, kupikir kenapa aku Cuma bisa mengobrol denganmu dalam mimpi. Melihatmu masih di kelas, kupikir ini kesempatanku bicara denganmu”, kata Kak Ady dengan sedikit malu-malu.
“Dunia mimpi”, gumamku.
“Kau menyebutkan itu di dalam mimpiku”, kata Kak Ady riang. Ia langsung terdiam.

“Lalu kita bermain basket bersama…”, kataku dan kupandang Kak Ady yang tampak cukup terkejut. “Kakak bilang ingin bermain bersamaku di dunia nyata.”
Kak Ady tampak tidak percaya tapi wajahnya langsung berubah gembira.
“Rupanya itu benar-benar kamu, Lucia”.
“Kakak tahu namaku?”, tanyaku heran.

Kak Ady tampak tersipu-sipu. HP-ku tiba-tiba berbunyi, ayahku sudah menjemput.
“Maaf Kak, aku sudah dijemput”, kataku dan aku berlari menuju pintu.
“Lucia!”, panggil Kak Ady, aku berhenti. “Aku benar-benar berharap kita bisa bermain bersama seperti di dalam mimpi itu. Jadi, mau kan suatu saat kita bermain bersama?”.

Aku menoleh dan mengangguk. Aku pun kembali berlari menuju ayahku yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah.
Ini bukan mimpi kan? Kalau ini mimpi, jangan biarkan aku terbangun….

Sumber: indowebster.com

author