Sebuah Perjalanan

No comment 455 views

Adalah kekuatan dari-Nya yang bisa saya gunakan untuk bertahan dalam kemelut untuk tidak merasakan apa-apa dalam perjalanan sebuah misi, karena kegundahan, kekecewaan dan segala panorama kegagalan yang menyelimuti seakan membutakan mata pikiran dalam menentukan arah yang akan dimulai.

kekuatan untuk tidak merasakan apa-apa ; baik rasa kedukaan maupun rasa kebahagian yang terpatri dari keduniaan, karena rasa Ke-Tuhan-nan-lah yang harus hadir untuk memperkokoh segala simbol dan sandi-sandi hidup lalu mengalir dalam mengiringi bahtera takdir yang hampir karam.

Dipojok jalan itu ketemui seorang sahabatku, dia mengisahkan tentang perjalannya, yakni sebuah perjalanan hakikat dalam mencari kebenaran yang ditempuh melalui perjalanan syariat dengan menelan waktu kurang lebih 6 bulan. Perjalanan yang dilakukan dengan berjalan kaki mulai dari banyuwangi-Jawa timur sampai ke Banten hingga akhirnya tiba di jakarta tanpa bekal makanan dan uang sesenpun. Diakhir pengembaraan itu dia berjumpa dengan seorang mursyid (yang juga mursyid saya).

Perjalanan yang Ia tempuh membutuhkan kekuatan untuk tidak merasakan apa-apa karena hanya rasa ke-Tuhan-nan yang terpahat dan mengalir dalam setiap sendi jiwa raganya.

Terkadang hadir rasa letih yang berkepanjangan dililit rasa lapar yang mencekam dan terkaparlah jasadnya dipinggir jalan dalam keadaan pingsan. Terkadang hadir rasa untuk menyerah dan kembali ketitik awal lalu memulai kembali kehidupan yg ia tinggalkan dimana secara duniawi cukup makmur dan sejahtera.

Terkadang hadir rasa kebanggaan akibat mengalami beberapa kekaramatan dari perjalanan itu, sehingga membuat beberap orang yg melihatnya lantas datang memohon ia menjadi guru mereka, Ia hanya bingung karena merasa tidak bisa apa-apa dan menolak mereka untuk berguru kepadanya karena ia sendiri dalam perjalanan mencari seorang guru.

Terkadang hadir kebimbangan ketika ia menemukan seorang guru yang mengajari ia tentang hakikat hidup, ia mencoba memahami setiap ajaran yang tersurat maupun tersirat, namun ketika sampai pada pertanyaannya yg hakiki, banyak dari mereka yang tidak bisa menjawabnya lalu diapun pergi mencari guru yang lain. Pertanyaan itu beberapa kali ia perertanyakan kepada setiap guru yang ia temukan dan tak satupun yang bisa menjawabnya.

Pertanyaan yg membutuhkan jawaban yang berdasarkan pada pembenaran pengalaman ; ” Pernakah Engkau mengalami Kematian? jika pernah ajari saya untuk mengalami mati”. Mengalami Mati adalah sebuah gerbang dalam melepas hijab jiwa dari segala hijab yang ada, selanjutnya jiwa akan mengerti siapa dirinya yang sebenarnya. Dari sinilah pemahamanTuhan dimulai, Matilah sebelum engkau mati yang sesunguhnya, demikian kata Rasulullah dalam menjabarkan sebuah perjalanan menuju Tuhan.

Berat memang jika saya meresapi kisah perjalanannya, namun dibalik kisahnya itu ada godaan lain yang datang menghampiri agar segala kisahnya dituangkan menjadi sebuah sinetron dan ditayangkan pada saat bulan ramadhan, bayarannyapun bernilai Milyaran Rupiah.. woh fantastik menurut saya, namun semuanya ia tolak lantaran sebuah syarat yang tidak sanggup dipenuhi. Kembali kepada makna sebuah perjalanan, apakah kita bisa mengaku sebagai seorang mu’min sebelum Allah memberikan ujian..? Hanya kekuatan dari-Nya untuk tidak merasakan apa-apa tentang hidup ini ketika kita  mulai melangkah dalam kesadaran. haya rasa Ke-Tuhan-nan yang kita  butuh karena Tuhan-lah segalanya. Ketika sekelumit rasa kepedihan yang melanda, mata raga ini seakan buta dan meneteskan air mata darah kedukaan, jasad ini seakan lemah gemulai tak bertulang memikirkan berbagai lara yang menerpa.

Kutarik nafas ini dalam-dalam agar jiwa memberi kekuatan pada raga kalau semua ini adalah kehendak-Nya agar diri ini kuat dalam perjalanan di episode-episode selanjutnya, jiwa ini terus memberi pemahaman pada akal raga bahwa segala yang ada adalah tools dalam melatih diri menjadi lebih kuat dan paham akan makna hidup yang sesungguhnya. kesempatan ini tidak datang setiap saat, olehnya syukurilah apa yang ada walau logika mewarnainya sebagai musibah. Namun aku memahaminya dengan qalbu yang tercahayakan, dan dikesudahan perjalanan selalu ada kemudahan. Bukankah setiap kesulitan pasti ada kemudahan..? demikian firman Allah dalam Al-Quran. Tapi ingat anda yang belum mengalami tidak semudah yang diucapkan, disinilah perlu penyerahan diri secara totalliti kepada Allah dalam mengharap segala Rahman dan Rahimnya… Kuakhiri sebait sharing ini buat sahabat-sahabatku pengunjung setia Blog ini, semoga Allah merahmati kita semua dengan Cinta Kasihnya dan menjauhkan kita dari segala Fitnah dunia dan akhirat.

Satu maknah yang saya tangkap dari sobat saya yang melalukan perjalanan dari jawa timur sampai ke banten yakni : perjalan dalam kebenaran adalah sebuah pilihan, kamu boleh untuk tidak memilih seperti segumpal tanah lumpur yang hanya membiarkan dirinya untuk tidak disentuh. Namun jika kamu memilih untuk di sentuh (itupun atas kehandak-Nya) maka kamu harus siap “Bermandikan Fitnah bersabunkan musibah (duka ;penulis)” karena kamu akan diproses menjadi sesuatu yang bernilai, Guci dari tanah liat itu membutuhkan proses peleburan dan pembakaran sebelum dipajang pada tatakan etalase yang indah.

author