Sebuah Titik Di Atas Kertas

No comment 878 views

 

Orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, akan dengan cekatan mampu menunjukkan kesalahan orang lain. Bahkan jika sesuatu terjadi pada dirinya, maka orang lainlah yang akan ia persalahkan.

“Aku jatuh karena Ayah meletakkan ember di sembarang tempat,” kata seorang anak kepada ayahnya saat ia terjatuh di kamar mandi.

“Kamu mengalami musibah ini karena kamu tidak berhati-hati. Oleh karena itu, kalau berjalan hati-hatilah,” kata anak tersebut algi kepada seorang anak lain yang terjatuh dan terkilir kakinya.

Pada suatu hari, anak itu berjalan-jalan di pinggiran hutan. Matanya tertuju pada sebuah pohon, di mana pada salah satu dahan pohon tersebut, ada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya. “Wah, madu lebah itu pasti sangat manis, aku akan mengambilnya !”

Ia pun mengambil sebuah galah dan menyodok sarang lebah itu dengan keras. Ribuan lebah pun merasa terusik dengan ulah anak itu dan lalu menyerangnya. Melihat lebah yang begitu banyak menuju dirinya, anak itu segera berlari. Namun para lebah tidak mau membiarkan musuhnya pergi begitu saja.

Beberapa, lebah berhasil menghajar anak itu dengan sengatan. “Aduh, aww, tolong …..!” Byur… ! Anak itu menceburkan dirinya ke sungai. Dan para lebah-lebah yang marah itu akhirnya pergi meninggalkan anak itu.

Sesampainya di rumah, ia langsung mengadukan hal tersebut kepada ayahnya. “Mengapa Ayah tidak menolongku ? Jika Ayah sayang padaku, pasti sudah berusaha menyelamatkanku. Semua ini salah Ayah!”

Mendengar itu, sang ayah diam sejenak, lalu mengambil selembar kertas putih. “Anakku, apa yang kamu lihat dari kertas ini?”

“Itu hanya kertas putih, tidak ada gambarnya,” jawab anak itu.

Kemudian, ayahnya membuat sebuah titik hitam di atas kertas putih itu. “Apa yang kamu lihat sekarang?”

“Ada sebuah titik hitam di kertas putih itu!” jawab anaknya dengan lantang.

“Anakku, mengapa kamu hanya melihat satu titik hitam pada kertas putih ini, padahal sebagian besar kertas ini berwarna putih? ” Ayahnya melanjutkan, “Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah! Padahal masih banyak hal baik yang telah Ayah lakukan buatmu.”

Lalu sang ayah berjalan pergi meninggalkan anaknya yang duduk dengan termenung.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : spicaku.blogspot.com )

author