Sepenggal Kisah tentang Kasih Ibu

No comment 796 views

Di suatu masa, di saat computer belum ditemukan, di saat sistem pemerintahan masih berupa kerajaan, hiduplah seorang remaja berusia sembilan belas tahun, bernama Fulan.

Dalam kesehariannya, Fulan adalah anak yang cerdas, tampan, penuh bakat (salah satunya pandai memasak), dan ramah pada setiap orang bahkan yang belum begitu dikenalnya.

Pada suatu pagi, Ibunya menyiapkan makanan kesukaannya. Saat melihat makanan itu, ia hanya mengucapkan “Terima kasih” dengan nada datar, singkat, disertai dengan senyuman singkat dari bibirnya. Setelah selesai memakannya untuk memulai aktifitasnya sebagai pengajar di kerajaan, ia langsung pergi setelah mengatakan, “Bu, pergi dulu…”

Fulan tiba di istana dengan sambutan hangat dari raja. Ia lalu pergi ke kamar salah satu pangeran untuk menyampaikan kupu-kupu kertas buatannya sebelum mengajari anak-anak sekitar kerajaan seperti biasa. Setelah selesai mengajar (dan berniat membantu di dapur istana sebagai asisten juru masak), ia mendengar keributan kalau salah satu pangeran kerajaan tewas. Entah bagaimana, namun di ruangan tempat pangeran tewas tersebut terdapat pisau milik Fulan penuh darah. Awalnya ia menyangkal. Namun setelah diperiksa, dalam tas yang biasa ia kenakan, pisau itu tak ditemukan. Singkat cerita, Fulan menjadi satu-satunya tersangka yang dicurigai.

Fulan berontak, tak percaya. Ia tahu bahwa dirinya tak mungkin melakukan itu. Sebetulnya seluruh anggota istana (termasuk raja dan para penasehat) tak ingin pula percaya. Tapi karena pisau miliknya ada di tempat kejadian, mereka mau tak mau menjadikannya sebagai tersangka. Adalah peraturan di sana bahwa seorang penghilang nyawa akan dibalas dengan nyawa dalam satu hari dengan disaksikan dengan cara digantung tepat ketika lonceng raksasa istana berbunyi pada tengah hari, setelah sebelumnya dikurung. Artinya, keesokan hari Fulan harus menerima konsekuensi itu.

Dalam kurungannya, ia terus menjerit, berteriak pada para penjaga, salah satunya untuk menyampaikan pada ibunya agar ia datang menolongnya. Dalam tangisnya ia berharap agar ibunya mau percaya kalau yang melakukan pembunuhan itu bukanlah dirinya. Ibunyalah satu-satunya orang yang bisa ia harapkan setelah ayahnya meninggal 5 tahun yang lalu.

Keesokan harinya, hari penggantungan tiba. Dengan disaksikan beribu orang yang tak percaya mendengar ‘orang hebat istana’ akan digantung, Fulan bergerak dengan langkah gontai keluar dari kurungannya. Dengan mata tertutup ia setengah diseret oleh para pengawal istana, hingga tiba di tempat penggantungan.

Matahari sudah hampir berada di puncak. Dalam keringat yang telah bercucuran, Fulan pasrah, beritanya mungkin tak sampai ke ibunya. Artinya tak ada satupun yang akan menolongnya meski hanya dengan kata-kata pada sang raja.

Ia menunggu, begitu pun dengan keluarga istana dan orang-orang yang menyaksikan.

Matahari kini sudah berada tepat di atas. Tapi lonceng kerajaan belum juga berbunyi. Padahal selama lonceng itu dibuat, belum pernah sedikitpun terlambat…

Raja akhirnya memerintahkan salah seorang pengawal untuk mengecek lonceng itu kalau-kalau rusak atau ada orang lain yang sengaja merusaknya. Dan setelah diperiksa, sang pengawal kembali dengan sebuah berita yang juga pada akhirnya sampai ke telinga Fulan.

Lonceng raksasa itu tak berbunyi bukan karena rusak, bukan pula karena ada orang lain yang merusaknya. Lonceng itu tak berbunyi karena ada satu sosok tubuh di sana. Saat ini sosok itu sudah tak bernafas lagi, menyisakan darah yang menghiasi loceng kebanggaan istana. Ternyata sosok tubuh itulah yang menghalangi pendulum lonceng untuk terbentur dengan baja, dengan sebuah pelukan yang tegar, yang mengakibatkan bagian perutnya hancur… Sosok itu adalah ibu Fulan.

“TIDAAAAAAK!!!” Fulan menjerit. Ia tak menyangka berita itu sampai pada ibunya. Ibu yang selalu memberi masakan terbaik untuknya walau ia jarang berkata terima kasih dengan tulus. Ibu yang selalu memberikan senyuman hangat setiap harinya, walau ia jarang membalas senyuman itu dengan senyuman kebanggaan dari bibirnya.

Fulan begitu menyesal… Ia begitu ingin kembali ke saat di mana ia menikmati masakan buatan ibunya, dan mengatakan, “Bu… masakan buatanmu sangaaaat enak! Tak ada duanya! Besok buat lagi, ya! Aku sayang Ibu…”

Tapi ia tau, tak mungkin… Karena tangisnya dan jasad ibunya adalah saksi yang berkata bahwa masa lalu tak mungkin kembali…

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : karafuruworld.wordpress.com )

author