Setelah Penantian Panjang

No comment 1508 views


Satu siang di kantin kampus.  Aku asyik ngobrol berbagai hal dengan empat orang sahabat.  Hari itu adalah hari terakhir kami berkumpul bersama di kampus menjelang wisuda yang akan dilakanakan keesokan harinya.  Topik pembicaraan yang paling menarik adalah tentang masa depan yang akan kami geluti setelah jubah dan toga dilepaskan.
“Aku mau menikah saja ahh…” celetuk Yaya yang membuat kami jadi terbahak bersama.

“Hari gini…..ngomongin kawin, yang bener aja!” tukas Uwi, “aku sih pengen jadi Hakim!”

Lagi-lagi kami tertawa.  Uwi itu anaknya selalu takut dan hanya bisa menundukkan kepala bila harus berhadapan dengan orang lain.  Hmm…lalu punya cita-cita setinggi dan menantang seperti itu?

“Nanti terdakwanya nggak takut dong sama kamu!” tukas Yaya.

“Haha….kalau di sidang pengadilan, mata nggak boleh nunduk terus Wik!” goda Dina.

“Ih….kalau belajar berani kan pasti bisa!” sergah Uwi agak sewot.

“Yah sudah…aku percaya koq Wik, ujar Rere, “kalau aku sih…kepinginnya jadi PNS saja deh!”

“Emang PNS bisa kaya?” canda Yaya.

“Huuhhhh!” kami bersorak serempak mendengar celetukan Yaya sambil ketawa geli.

“Aku nanti kerja di mana ya?” Dina bingung, “Tahu deh, kayaknya sulit mencari kerja di zaman sekarang!”

Kami memandang Dina dengan pikiran masing-masing berkecamuk di ruang pikir.  Terus terang, dalam hatiku sempat terbersit kekhawatiran yang sama.  Kami lulus kuliah di tahun 1998, kenyataan kalau krisis moneter sedang berlangsung di negara  yang tercinta ini.  Bank-bank banyak yang dilikuidasi dan perusahaan-perusahaan banyak yang gulung tikar.  Tapi masa sih kita juga harus tidur dan takut untuk berjuang?

“Ah….tidak boleh begitu dong,” kataku cepat, “aku yakin suatu hari nanti cita-cita kita semua  Insya Allah tercapai asalkan  kita tidak pernah menyerah.”

“Amin…” koor teman-temanku.

“Kau sendiri pengen kerja di mana, Chen?” tanya Uwi.

“Semoga aku mendapat pekerjaan yang terbaik untukku,” kataku yakin.

“Aku berdo’a untuk kesuksesan kita,” ujar Uwi.

Dan kami pun mengamini.

Hari-hari setelah wisuda pun akhirnya aku jalani dengan penuh tawakkal pada Allah.  Kenyataanya, memang tidak mudah mendapatkan sesuatu seperti kita mengucapkannya.  Tapi aku tahu perjuanganku baru mulai dan harus kutanam keyakinan kalau kalau suatu saat aku akan berhasil.  Aku percaya, Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk setiap umat Nya.

Keyakinan itu selalu menyertai di setiap langkahku.  Keyakinan yang menghadirkan rasa percaya diri setiap kali aku melamar kerja.  Walau terkadang,  ada kalanya terbersit juga ketakutan akan masa depan  yang tidak sesuai dengan apa yang aku impikan.  Rasa lelah pun kerap datang membuat asa yang melambung tinggi harus menggantung tanpa arah.

Di awal-awal setelah lulus kulian, dalam mencari kerja dan mengejar cita-cita,  semangatku selalu berkobar-kobar.  Setiap lowongan yang ada di surat khabar atau informasi dari siapa saja, tak akan luput dari perhatian dan incaranku.

Aku masih teringat, lowongan pertama yang aku baca adalah kesempatan kerja sebagai tenaga administrasi dari sebuah perusahaan.  Ketika membaca lowongan itu, aku tidak peduli kalau basicku adalah ilmu hukum. Tidak!  Yang ada dalam pikiranku adalah aku ingin kerja secepatnya.

Ketika itu, berbekal do’a dan semangat tinggi, berdua dengan temanku, Dina, kami melamar kerja ke alamat yang tertulis dalam iklan di surat khabar itu. Sesampai di kantor sesuai dengan alamat yang tertulis di dalam iklan, mataku menangkap halaman kantor yang tidak seberapa besar itu dipenuhi orang muda sambil mendekap map masing-masing (yang bisa kupastikan adalah surat lamaran kerja beserta dokumen-dokumen penting lainnya) tampak berdesak-desakan dalam satu antrian.

“Waduh!  Antriannya kayak ular naga panjangnya!” keluh Dina mencoba bercanda, “kapan lagi giliran kita?”

“Yah…paling tidak,  ada lebih dari seratus orang di depan kita,” aku angkat bahu, “ya sudah, kita tidak mungkin batal melamar, bukan?”

Akhirnya  setelah antri hampir dua jam, berdua Dina, sampailah kami ke sebuah meja yang akan memeriksa kelengkapan administrasi kami,

“Oke, silahkan masuk ke ruangan di sana untuk menunggu wawancara,” kata mbak berambut cat merah dengan tatapan dingin, mungkin karena kelelahan melayani ratusan orang yang ingin melamar.

Aku dan Dina  menungu waktu wawancara dengan gelisah.  Untunglah banyak teman-teman menyenangkan yang kocak saat itu. Hingga kami menghabiskan waktu dengan bercanda dengan rekan-rekan lain yang sama-sama menunggu.  Akhirnya, pukul dua siang, giliranku tiba.  Dengan membaca Bismillah, aku melangkahkan kaki masuk ke ruang wawancara.

Seorang wanita yang masih muda duduk di belakang meja sambil tersenyum padaku.  Hatiku deg deg an juga.  Tapi tenang rasanya setelah wanita muda itu yang ternyata Kepala Bagian Personalia menyapaku dengan ramah.  Setelah tanya jawab yang aku jawab dengan hati-hati dan berusaha untuk tampak percaya diri, Kepala Bagian Personalia itu menyalamiku, memberi ucapan selamat, kalau aku diterima kerja dan diharuskan datang keesokan harinya, pukul delapan.

Woow…betapa bahagianya hatiku.  Apa lagi, kemudian aku tahu, Dina pun diterima juga.  Ternyata mencari kerja tidak sesulit yang aku bayangkan.  Kami lalu berkhayal, mulai besok akan mulai menjadi wanita pekerja yang akan bekerja dengan sungguh-sungguh.  Pakaian kerja yang keren, tas kerja baru dan sepatu cantik sudah menari-nari di pikiranku untuk segera dipersiapkan hari ini.

“Kita harus merayakan khabar baik ini dengan teman-teman kita yang lain,” ujar Dina.

“Haha…nanti saja Din,” kataku geli, “setelah kita menerima gaji pertama bulan depan, semoga teman-teman yang lain jadi tambah semangat, ya nggak?”
Aku dan Dina pun tertawa gembira.  Esok harinya, aku dan Dina masuk ke kantor “baru” kami dengan ceria.  Seorang wanita yang mengenakan blazer bewarna kuning cerah mempersilahkan kami menunggu di ruang tunggu.  Tapi ternyata,  selain kami, ada sekitar dua puluh orang lainnya yang juga menunggu di ruang tunggu.  Aku mulai merasa aneh.  Apa mungkin di sebuah perusahaan yang tidak seberapa besar ini menerima tenaga Administrasi sebanyak dua puluh orang?  Hah!  Tidak masuk akal!

“Setelah menunggu hampir dua jam, Kepala Personalia yang mewawancara  aku kemarin masuk ke ruangan dengan menyapa kami ramah.  Di belakangnya, tampak dua orang wanita muda lainnya, salah satunya wanita yang berblazer kuning cerah yang kami temui tadi yang kemudian aku tahu bernama Yanti,  membawa dua buah kardus kecil.

“Selamat pagi, semoga hari yang cerah ini membawa semangat yang luar biasa pada anda-anda semua, “ sang Kepala Personalia.

“Hari ini kalian mulai bekerja dan kami sangat mengharapkan dedikasi yang tinggi dari anda semua.  Rekan kalian, Yanti, akan menjelaskan apa yang harus kalian kerjakan,” lanjut Kepala Personalia itu.

Aku hanya bisa melongo setelah tahu apa yang terjadi, setelah Yanti, asistennya si Personalia itu menjelaskan apa pekerjaan kami itu.  Ternyata aku, Dina dan teman-teman yang lainnya yang ada di ruangan tunggu itu bukan diterima sebagai tenaga administrasi. Tapi kami diterima sebagai seorang sales yang akan menawarkan kopi kemasan dan alas untuk menyetrika.

Dina dan teman-teman yang lain mencak-mencak.  Aku masih terpana, tak percaya.  Perusahaan apa ini? Apa hubungannya kopi kemasan dan alas  untuk menyetrika dengan lowongan kerja yang jelas-jelas tercantum untuk mengisi posisi administrasi?  Pertanyaan-pertanyaan itu terus berlompatan di pikiranku.  Tapi aku tidak marah-marah seperti yang lain.  Entahlah, rasanya aku terlalu capai untuk menuntaskan emosi seperti yang lain.

Aku dan Dina langsung pulang dengan pikiran yang masih berlompatan.  Ada rasa sakit hati karena merasa telah dipermainkan oleh Perusahaan tempat kami melamar, tapi satu pelajaran yang sangat berharga kami peroleh.  Pengalaman itu benar-benar menampar kami. Yah…apalah artinya gelar S1 di zaman yang terus berputar dan bersaing ini.  Aku telah melihat sendiri begitu banyak sarjana-sarjana yang berebut hanya untuk memperebutkan posisi “administrasi” yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.  Dan kenyataan yang terjadi, ternyata bukan posisi administrasi yang ditawarkan, tetapi posisi sales marketing.

Aku tidak menganggap sales itu pekerjaan rendah (karena tokh pada kenyataannya aku pun sempat terjun ke dunia sales/marketing dan aku menikmatinya !) Tidak!  Tapi yang mengecewakan, adalah, untuk merekrut tenaga kerja, perusahan itu tidak transparan dari awal pengiklannya.  Sungguh memprihatinkan!

Beberapa hari setelah kejadian itu, aku mendapat khabar dari sesama rekan yang senasib, kalau kantor tempat kami melamar itu tutup.  Ternyata kantor itu hanya disewa sebentar dalam rangka merekrut tenaga kerja saja dan kini telah pindah entah ke mana.

Pengalaman itu membuat aku lebih kuat dan semakin teliti.  Ternyata melamar kerja pun tidak harus terburu-buru seperti yang kami lakukan.  Tetapi harus benar-benar mencari tahu tentang perusahaan itu sendiri dan posisi sebenarnya yang ditawarkan.  Mungkin karena baru pertama kali interview, aku dan Dina tidak berani bertanya yang lebih detail dan menerima begitu saja apa yang telah diiklankan itu.

Setelah itu berbagai peristiwa lucu, sedih dan menggembirakan aku alami.  Satu kali,  aku aku ditelepon untuk wawancara di sebuah perusahaan swasta untuk posisi tenaga Administrasi.   Tentu saja aku gembira sekali.  Karena letak kantornya jauh, aku segera menelepon almarhum ayah yang saat itu sedang bekerja untuk meminta pendapatnya. Sangking bahagianya aku mendapat panggilan kerja, ayahku menyempatkan waktu untuk mengantarku ke kantor siang itu juga. Akhirnya setelah wawancara, aku pun diterima kerja dan sudah boleh kerja bosok paginya.

Besoknya, mulailah aku bekerja dengan penuh harapan.  Sesampai di sana , aku disambut dengan teman-teman baru yang semuanya laki-laki.  Mereka memperingatkan  aku kalau aku harus berhati-hati dengan boss baru ku yang tempramen.  Mulanya aku menganggap adalah wajar bila seorang pemipin marah pada bawahannya.  Tapi ternyata benar yang dikatakan teman-teman ku, bossku memang sangat pemarah.  Dari pagi sampai siang, dia terus memarahi setiap stafnya, termasuk aku, si karyawan baru yang butuh adaptasi dengan pekerjaan dan lingkungan sekitar.  Aku jadi takut sekali berbuat salah.  Bila salah ketik satu huruf satu, marahnya bisa sampai berjam-jam. Ah….rasanya aku tak sanggup tapi tetap aku redamkan.

Tapi ketika jam menunjukkan angka empat, aku baru saja mau mengambil wudhu untuk sholat Asyar, boss menyuruhku mengetik surat dengan segera.  Karena terburu-buru, aku melakukan kesalahan, lupa mencantumkan tanggal di surat , dan jadilah aku dimarahi oleh si boss.  Tapi si boss, entah karena ada masalah lain yang berat atau mungkin karena sifatnya yang selalu tempra sehingga memandang segala sesuatu dengan hati dan kepala panas, menjadi berang dan marah yang menurutku sangat tidak berperasaan.

Ketika itu, sebagai anak muda yang baru lulus kuliah dan masih memiliki rasa ego yang tinggi, aku terpancing marah.  Yah….rasanya aku tidak bisa menahan diri dan menolerir lagi sikap bossku itu.

“Terima kasih, Pak, untuk kesempatan kerja di sini.  Tapi maaf, aku mengundurkan diri hari ini juga!” kataku dengan badan menggigil menahan emosi.

Boss ku melongo melihat sikapku.  Tapi aku tidak menunggu lebih lama lagi. Aku langsung berlari dari hadapannya dan langsung menyambar tas kerjaku yang tergeletak di atas meja kerjaku (yang cuma beberapa jam bersamaku itu) dan keluar kantor dengan perasaan tak menentu.

Aku pulang ke rumah dengan berbagai perasaan bermain dihatiku. Malu dengan sikapku yang tidak bisa menahan emosi, marah dengan perlakuan kasar dari boss dan takut mendapati tanggapan dari ayah dan ibuku. Untunglah aku punya orang tua yang sangat bijak dan pengertian.  Ayah dan ibuku menasihatiku kalau itulah kehidupan yang harus aku jalani.

“Begitulah dunia kerja itu, nak,” kata ayahku, “jangan jadi kalah hanya mendapat kemarahan seperti itu.  Tapi semua memang hak Ichen untuk memilih, mencari pengalaman, memilih tempat kerja yang paling diinginkan.  Berusahalah terus untuk mengejar impianmu.  Ayah berdo’a selalu untuk keberhasilanmu.”

Aku memeluk ayahku dengan tangisan tumpah di bajunya.  Akhirnya, aku bisa melampiaskan kekesalanku hari itu dengan lega.  Yah….aku mengerti, aku tidak boleh kalah hanya karena dimarahi seperti itu.  Semestiya aku bisa mencoba utnuk berbuat lebih baik lagi.  Dan sekali lagi, aku jadikan itu sebagai pelajaran yang akan menempa cita-citaku kelak.

Setelah itu hari bergulir tanpa pernah menunggu kita yang cuma diam.  Dan aku pun harus terus bergelut dengan segala impian dan harapan.  Berbagai pekerjaan telah aku lamar dengan do’a setiap detik berlalu.  Ketika aku mengalami kegagalan dalam test penerimaan pegawai di kantor yang aku lamar, aku sudah semakin kuat dan yakin, mungkin pekerjaan itu bukan yang terbaik untukku.  Dan aku tidak putus asa.  Sakit sekali memang ketika kita tidak lulus padahal kita sudah melalui test-test yang panjang.

Dan aku memang pernah menangis karena kegagalanku.  Aku ingat ketika aku mengikuti test penerimaan pegawai di pertamina, aku tidak lulus padahal aku sudah mengikuti sampai test terahir, test kesehatan dan kebugaran. Sayangnya, setelah dirangkingkan,   dari sisa sebelas orang yang ikut test sampai akhir, cuma tiga orang yang diterima.  Dan aku tak kuasa membendung air mata yang tumpah.

Kalau saja itu pengalamanku pertama, mungkin aku sudah patah semangat.  Tapi aku percaya, bila aku tidak diterima kerja di satu perusahaan dan aku telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan semaksimal mungkin, aku yakin itu bukan jalanku dan aku harus terus berjuang mengejar cita-citaku yang selalu aku pupuk dengan subur hingga tak kan melayu dimakan waktu. Aku pun tambah berpacu mengejar waktu yang terus berputar.  Entah sudah berapa puluh pekerjaan yang aku lamar, tidak hanya di kotaku, Palembang tapi juga sampai ke Jakarta dan kota-kota lainnya.

Setelahnya,  berbagai pekerjaan pun sempat aku singgahi.  Mulai dari asuransi, marketing di sebuah travel, marketing di sebuah majalah local,  magang di sebuah bank Pemerintah, Magang di  Lembaga Bantuan Hukum atau menjadi Sekretaris dan  tenaga administrasi di beberapa perusahaan swasta / yayasan.

Aku benar-benar menikmati hidup yang kulalui.  Ketika teman-temanku banyak yang patah semangat dan menjadi takut dan malas untuk melamar, aku terus maju.  Ketika pada awal-awal keluluasan aku bisa melamar pekerjaan bersama teman-temanku, namun seiring dengan berlalunya waktu, masing-masing mempunyai jalan masing-masing, aku tetap berjuang untuk jalanku sendiri.

Di penghujung tahun 2001, hampir empat tahun setelah aku lulus kuliah,  aku juga masih berjuang. Di saat teman-teman yang lain telah memilih jalan hidup sendiri-sendiri, menikah dan kerja di berbagai tempat, aku aku masih menata masa depanku yang masih kabur. Aku memang sudah bekerja saat itu, di sebuah perusahaan travel.  Tapi pencarianku belum selesai.   Ketika itu juga,  teman specialku (catat : pacar ;)) harus meninggalkanku karena dipindah tugas ke Jakartu.  Dan aku pun merasa semakin sepi dan sendiri saja.

Suatu hari, aku membaca  lowongan kerja dari sebuah Departemen / Instansi Pemerintah dan Bismillah, aku pun mencoba melamar.  Kata teman-temanku,  menjadi pegawai negeri harus punya koneksi dan uang yang banyak (untuk menyuap!). Kata-kata mereka sempat mempengaruhi harapanku.  Tapi ayah dan ibuku terus menyemangatiku.

“maju terus, jangan patah semangat.  Tuhan tidak akan pernah lelah mencatat setiap langkah umatNya yang ingin maju,” kata-kata dari almarhum ayah pun mendekam di benakku dan selalu aku ingat.

Aku pun yakin dan percaya.  Kenapa aku pun harus takut untuk berharap dan berusaha? Dan….sungguh tidak terduga rasanya, ketika pengumuman test pertama aku lulus.  Ketika itu aku juga lulus test pertama di Bank Indonesia .  Aku semakin giat belajar dan berjuang untuk lulus.  Setelah pencapaian dan test-test yang panjang, aku gagal di test berikutnya di Bank Indonesia dan lulus test terahir di sebuah Intansi Pemerintah dan sungguh tak percaya rasanya ketika  aku pun  ditempatkan di Jakarta.

Yah…rencana Tuhan siapa yang bisa menduga.  Di akhir penantianku, ketika tahun-tahun bergulir dengan cepat dan usia yang terus bertambah, aku mendapatkan pekerjaan di saat dan tempat yang sangat kuharapkan.  Ketika aku sedang sedih karena teman special harus pindah kota karena tuntutan pekerjaan, ketika aku sedih satu persatu teman-teman ku pun telah mempunyai kehidupan masing-masing dengan pekerjaan atau rumah tangga mereka masing-masing, Tuhan mengabulkan do’a dalam setiap langkahku, keringatku dan lelahku.

Kini, lebih dari lima tahun semua itu berlalu. Aku telah merasa nyaman dengan pekerjaanku kini.  Aku pun telah berumah tangga dengan teman specialku yang juga sangat berperan dalam memacu semangatku.  Aku sering terkenang dengan jalan yang telah aku lalui dan teringat obrolanku dengan teman-temanku di kampus, satu hari menjelang wisuda.

Ternyata benar,  jangan takut untuk berkhayal yang baik dan berhentilah untuk berpikir dan berkhayal yang buruk.  Karena siapa yang bisa menduga , apa yang kita khayalkan itu apa yang kita impikan akan menjadi kenyataan.  Aku teringat Yaya, temanku bercita-ciga ingin langsung menikah usai wisuda ternyata impiannya terwujud.  Mungkin menjadi ibu rumah tangga membuatnya bahagia.  Bukankah ibu rumah tangga pun adalah pekerjaan yang mulia?  Rere pun berhasil menjadi PNS seperti yang dia cita-citakan.  Uwi pun sukses menjadi pengacara.  Walau tidak menjadi hakim seperti cita-citanya dulu, tapi dia telah membuktikan kalau dia telah berhasil menghilangkan rasa takutnya bila berhadapan dengan orang lain menjadi pengacara yang berani membela kebenaran.

Yah…jangan takut bermimpi indah bila kita percaya kalau suatu hari mimpi itu akan menjadi kenyataan asalkan di setiap langkah, kita membekali diri dengan keyakinan, do’a dan semangat yang tidak pernah putus-putus.  Ada Tuhan yang mencatat setiap langkah kita dan mengabulkan impian kita di waktu dan tempat yang sangat indah.  Terima kasih, ya Allah.

–Ditulis oleh Dewi Cendika ZR

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : sekolahkehidupan.com )

author