Ta’aruf

1 comment 1423 views
Ta’aruf,5 / 5 ( 1votes )

Dengan gelisah kutatap Ibu berkali-kali. Keinginan yang sedari tadi ingin kusampaikan mendadak menjadi beban yang ragu kulontarkan. Jemariku mulai melinting ujung kerudungku. Namun tetap saja tak mampu menghapus keraguan yang mendadak datang.

“Fit, kamu kenapa toh nduk?” tanya Ibu heran, seraya mendekatiku yang berdiri di ambang pintu.

Aku terhenyak. Tak menyangka Ibu akan bertanya padaku. “Ah oh… eh Fitri, anu bu, eh…” jawabku gugup.

Ibu tertawa kecil. “Ada apa sih? Sampai segugup itu,” kata Ibu. Ditariknya tanganku dan kamipun duduk di meja makan.

“Sekarang ceritakan apa yang mau kamu sampaikan?” tanya Ibu lembut. Kutundukkan wajahku dalam-dalam. Bahkan sebelum keinginan itu kusebutkan, rasa malu bertabur jengah dan bingung sudah memenuhi rongga dada.

“Bu, tahun ini umur Fitria sudah 22 tahun kan? Sebentar lagi Fitri juga selesai kuliah.” Aku melihat Ibu mengangguk.

“Hmm… sudah pantas belum kalau Fitria menikah, bu?” tanyaku perlahan. Rasa panas karena malu menjalari kedua pipiku. Kembali aku menunduk, menutupi rona merah di wajahku yang mulai terlihat.

Ibu terdiam, lalu mengangkat wajahku dengan ujung jarinya. “Tentu saja, nak. Tapi… apa sudah ada orang yang jadi pilihan hatimu?” Kuanggukkan kepalaku lagi pelan tapi penuh keyakinan.

“Dan siapa lelaki itu, putriku yang manis?” tanya Ibu lembut.

Akupun berbisik malu-malu, kusebutkan nama seorang lelaki yang belakangan ini sering datang menemui Ayah. Ramadhan, lelaki santun dari kota lain yang tak hanya berhasil mencuri perhatianku, tapi juga sebagian hatiku. Lelaki baik dengan senyum yang sopan menawan, setiap kali menyapaku dengan anggukan setengah tertunduk penuh hormat.

Ibu tersenyum padaku. Menatap penuh arti. Ini pertama kalinya sejak aku kecil, aku berani mengungkapkan isi hatiku. Ibu pasti memahami kesungguhan hatiku yang malu-malu kusampaikan.

Dan akupun menanti terus dalam kegelisahan selama beberapa hari. Suatu hari sepulang kuliah aku dibuat kaget saat melihat di ruang tamu, sosok lelaki yang memenuhi mimpiku berhari-hari duduk di sana bersama Ayah. Mereka terlibat dalam pembicaraan serius saat aku memasuki rumah.

Seperti tamu-tamu Ayah yang lain, aku langsung permisi masuk ke kamarku yang berada di belakang. Namun di dalam kamar, kulihat Ibu sudah menunggu. Wajah Ibu demikian cerah, menenangkan hatiku saat menyampaikan kalau lelaki itu menyambut ajakan ta’aruf yang kusampaikan beberapa hari yang lalu.  ketika malam beranjak, saat makan  bersama sekali lagi Ayah dan Ibu mengulangi rencana ta’aruf yang akan kami lakukan beberapa hari lagi.

Aku tak bisa menyembunyikan getar-getar senandung cinta mendengar persetujuan Ramadhan melalui Ayah. Dengan bahasa penuh makna pada Ayah, lelaki itupun menyampaikan keinginan yang sama. Sudah lama ia ingin sekali mengenalku lebih dekat, sayang kesibukan dan rasa minder membuatnya sungkan mengambil langkah terlebih dahulu.

Langit terasa bagai bernyanyi untukku ketika lelaki itu datang lagi bersama kakak laki-lakinya. Ketampanan begitu terlihat karena hari itu ia mengenakan pakaian yang berbeda dari busana kerja yang biasa ia kenakan saat bertemu Ayah. Aku tak bisa menyalahkan air yang sempat tumpah saat tanganku gemetar menyajikannya.

Lalu Ibu dan Ayah mengajakku duduk bersama dia dan kakaknya. Perbincangan hangat seputar diriku dan diapun terus mengalir. Kakaknya yang ternyata juga seorang dosen bercerita kalau lelaki bernama Ramadhan itu lulus lebih cepat karena ikut program akselerasi, setelah itu ia melanjutkan ke program Masternya sambil bekerja di perusahaan yang sama dengan Ayahku. Ayah mengangguk-angguk, lalu ia bertanya tentang orangtua Ramadhan.

Kudengar suara yang sedikit bergetar saat Ramadhan menjelaskan pada Ayah. Ayahnya sudah lama tiada sejak beberapa tahun silam sementara sang Ibu tak mungkin untuk datang berkenalan dengan keluarga kami karena saat ini beliau sedang sakit. Kakak Ramadhan juga terlihat murung, membuat perasaanku menjadi tak enak.

“Bolehkah nanti kami berkunjung menengok Ibu kak Ramadhan? Saya ingin sekali berkenalan dengan beliau, ” bisikku perlahan. Ayah juga menimpali setuju dan Ibu pun mengangguk.

Ramadhan spontan berkata ya padaku, dengan kegembiraan yang tak bisa ditutupinya.

Ibu dan Ayah bergantian bercerita tentang kesibukanku. Sesekali Ramadhan bertanya tentang kegiatanku lalu semakin lama pembicaraan mengalir hanya antara aku dan dia sementara Ayah dan Ibu lebih banyak mengobrol dengan kakaknya. Ramadhan menyinggung soal rencanaku di masa mendatang selain menyelesaikan kuliah. Dan dengan wajah bersemu merah, kuutarakan niatku untuk membagikan ilmu pada orang lain dengan mengajar.

“Jika kelak silaturahmi ini berlanjut, saya pasti mendukung sepenuhnya keinginan De Fitria. Kebetulan kakak ipar saya juga seorang ustadzah, mungkin dia bisa membantu de Fitri nanti kalau ingin mencari pekerjaan,” ujar Ramadhan sembari tersenyum.

Dan sepanjang malam itu, aku bersujud berterima kasih pada sang Maha Pemberi. Cinta yang disematkannya di hatiku, telah membuatku menemukan imam yang baik. Terima kasih ya Allah, terima kasih atas anugerah cinta ini. Bila Ramadhan memang lelaki yang baik dan juga mencintaiMu sepertiku, izinkanlah dia menjadi jodohku, menjadi pembimbing setiap ibadahku padaMu.

Seminggu setelah pertemuan di rumahku, Ramadhan mengundangku dan Ayah melalui sms. Tiga lembar tiket dikirimkannya melalui kurir karena Ramadhan sudah berada di kotanya sejak beberapa hari lalu.

Sulit rasanya tak mengindahkan rasa rindu yang membuncah saat kami bertemu di kota kelahiran Ramadhan, ia datang menjemputku dan kedua orangtuaku di bandara Sepinggan. Penuh rasa hormat disalaminya Ayahku, dan mengangguk hormat pada Ibuku. Sekejap sorot pandang sayang dilemparkannya dalam tatapan, membuat hatiku terasa bagai melayang.Pertemuan itu ternyata tak seperti yang kubayangkan. Perumahan Pertamina tempat kakak Ramadhan tinggal bersama ibunya, telah ramai dikunjungi hampir seluruh keluarga besar Ramadhan. Satu persatu, Ramadhan memperkenalkan diriku beserta orangtua pada keluarganya. Bagai seorang putri yang disambut begitu rupa, penerimaan yang penuh rasa kasih dan sayang. Ibu Ramadhan memelukku hangat, berurai airmata seakan tak percaya atas kedatanganku.

Tak seperti pertemuan di rumah kami, kali ini aku mendapat banyak cerita tentang Ramadhan saat ia masih kecil. Kenangan-kenangan dirinya saat masih berumur balita diabadikan dalam potret diri dalam album foto keluarga, cerita kenakalannya ketika beranjak remaja dan bahkan aku tak mampu menyembunyikan tawa saat salah satu Bibi Ramadhan bercerita tentang kesukaan Ramadhan mengerjai teman-teman mengajinya di mesjid dekat rumah si Bibi dan di rumah Bibinyalah ia bersembunyi dari kejaran teman-temannya yang kesal.

Sepanjang pertemuan, semakin lama aku semakin mengenal pribadi Ramadhan. Tak cuma pernah belajar di Pesantren selama beberapa tahun, Ramadhan juga lulusan sekolah teknik. Nilainya tak begitu baik saat lulus karena saat ujian itulah bertepatan dengan meninggalnya sang Ayah. Menurut Bibi-bibinya, Ramadhan berubah banyak setelah Ibunya pun jatuh sakit, walaupun dia anak terakhir di keluarganya Ramadhan justru paling mandiri dan selalu rajin pulang menengok sang Ibu.

Sambil bercerita, salah satu kakak ipar Ramadhan memperkenalkan potret keluarga yang tak hadir. Foto Ayahnya, kedua kakaknya yang berbeda kota dan tak sempat hadir. Serta beberapa keponakannya yang lucu-lucu. Aku tersenyum dan sesekali mencuri pandang pada Ramadhan yang juga asyik mengobrol bersama Ayah.

Dan setelah mengantarku dan orangtuaku ke hotel sore itu, Ramadhan mengirimkan sms langsung ke nomorku.

Jika Allah memberi saya kesempatan, saya ingin berbakti pada Ibu, mencintai istriku dan mengasihi putri-putriku kelak.

Lama aku termangu. merenungi maksudnya mengirimiku kata-kata itu. Lalu berbisik Bismillah kubalas smsnya,

Bagi saya menikah bukan hanya mendapatkan suami, tapi mendapatkan keluarga baru termasuk bertambah Ibu dan bertambah Ayah. Jika baktimu itu suci, biarkanlah saya menjadi bagian dari kesempatan itu.

Handphoneku diam membisu setelah laporan sms terkirim kuterima. Kuputuskan untuk beristirahat karena lelah. Setelah sholat Maghrib, Ramadhan kembali datang mengajak kami untuk makan malam bersama keluarga. Dan masih seperti saat kami datang, kehangatan keluarganya menyambut aku beserta orangtua.

Keesokan harinya aku pulang. Kulihat rasa segan sekelebat terbayang di mata Ramadhan saat aku berpamitan. Namun, ketika aku baru saja melewati pintu masuk menuju ruang check-in Bandara Sepinggan, bunyi sms masuk ke handponeku lagi.

Tunggulah saya, Insya Allah setelah saya menyelesaikan semua urusan di sini, saya akan datang meminangmu. Doakanlah agar maksud ini diridhoi Allah, agar semua tujuan dan impian kita bisa bersatu dalam sebuah pernikahan.

Tanganku gemetar, kutolehkan kepalaku mencari sosok Ramadhan di balik dinding kaca yang membatasi ruang. Aku melihatnya berdiri di sana, tersenyum penuh arti dan aku mengangguk berulang kali. Dua tetes airmata keharuan mengalir di pipiku.

Terima kasih ya Allah, Kau pertemukan aku dengan lelaki yang benar-benar memahami cinta seperti yang kuinginkan. Cinta yang dimulai karena Allah, dan Demi Allah pula aku menerimanya. Biarkanlah aku lebur bersama cintanya itu, Ya Allah lebur dalam kebesaran dan karunia-Mu yang begitu indah, agar aku terus mengagungkan cinta sesungguhnya padaMu. Dzat Maha Penyayang dan Maha Pemberi.

*****

Note :

Sedikit out of theme dari tema blog, saya memutuskan menyinggung masalah Ta’aruf di tanggal yang diperingati sebagian orang sebagai Hari kasih sayang, karena banyaknya permintaan akhwat yang bertanya soal pelaksanaannya.

Cerita ini dibuat agar bisa memahami perbedaan antara Ta’aruf dan Pacaran. Mohon diperhatikan bahwa ada perbedaan signifikan diantara dua kegiatan tersebut, Pada Ta’aruf selalu ada orang lain (yang merupakan muhrim pihak perempuan) selain kedua calon pasangan, dan bahasa yang digunakan pada saat mengirim sms (private time) pun menggunakan bahasa santun dan bisa ditunjukkan pada pihak muhrimnya (dipertanggungjawabkan). Walaupun diawali permintaan dari pihak wanita, namun keputusan terakhir tetap di tangan pria.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : bundaiin.blogdetik.com )

author