Tanamlah Benih Itu, Petiklah Hasilnya!

No comment 481 views

Di suatu desa, terdapatlah seorang petani miskin, yang hanya memiliki sebuah benih tanaman yang selalu ia bawa kemana-mana. Ia tidaklah memiliki bidang tanah, untuk menumbuhkan tanaman itu, sehingga ia berkeliling-kelling seluruh desa untuk meminjam tanah tempat ia akan menumbuhkan benih itu. Ternyata tidak banyak tanah yang cocok ditumbuhi benih itu. Banyak tanah yang kering, karena sang pemilik tanah sama sekali tidak berniat tanahnya ditanami benih, dan banyak pula tanah yang telah ditumbuhi tanaman, terlihat dari tanaman yang tumbuh subur-subur dan bagus-bagus.

Tanpa rasa kecewa, petani ini terus mencari tanah. Dan, ia menemui hasil. Ia menemukan sebidang tanah yang sangat cocok bagi benih itu (menurutnya), dan tampaknya tanah itu masih belum ditanami apa-apa dan belum ada petani lain yang mencari tanah itu.

Dengan keberanian, petani ini mulai mencari sang pemilik tanah. Ia mulai mendekati pemilik tanah ini, untuk merelakan tanahnya ditanami benih tanaman miliknya. Meski sempat berpikir-pikir, akhirnya sang pemilik tanah mengijinkan tanahnya ditanami benih.

Sang petani pun sangat senang. Ia berjanji akan merawat dan menumbuhkan benih tanaman, agar kelak menjadi tanaman yang besar dan subur. Tiap hari, ia pasti datang ke tanah itu untuk menyiram dan merawat. Terkadang memberikan pupuk dan menyemprotkan pestisida bila terlihat hama mulai mengganggu. Ternyata, sang pemilik tanah ini cukup senang dengan kerja si petani.

Setelah sekian lama, sang petani ini sungguh ingin membawa pulang tanaman miliknya itu. Tanaman itu seperti berbuah emas. Tentu saja sang pemilik tanah sangat kagum melihat pohon tersebut berbuah emas. Sayangnya, sang pemilik tanah tidak mengijinkan hal itu, karena tanaman itu masih terlalu muda. Selain itu, sulitlah membawa pulang tanaman sebesar itu.

Akhirnya, setelah sekian lama, petani itupun berhak menggunakan tanah itu untuk menanam tanaman lainnya, dan terus merawat dan memelihara pohon emas itu agar semakin subur dan berbuah lebih banyak lagi.

Demikian halnya cinta. Tentu saja Anda dapat menganalogikan benih tanaman sebagai benih cinta, dan pohon itu adalah bagaimana perasaan cinta. Perasaan cinta tidak bisa muncul begitu saja, apalagi jatuh. Mereka tumbuh, karena usaha kita dan karena kerelaan orang tempat kita menanamkan benih cinta itu.

Seandainya kalian belum bisa memanen tanaman ‘cinta’ itu, teruslah bersemangat. Teruslah rawat dan pelihara tanaman cinta itu. Jika kalian pelihara dan rawat tanaman cinta tersebut, bukan tidak mungkin tanaman itu semakin besar, besar, dan besar. Jika demikian, bukankah tanaman cinta itu berakar semakin kuat dan semakin sulit lepas dari tanah ‘hati’ orang itu?

So, buat kalian yang sedang merasa sedih atau kecewa karena tidak berhasil menjalankan ‘misi’ kalian, teruslah pelihara dan rawatlah perasaan kalian terhadap orang itu. Ingat, jika selama ini kalian sudah berusaha untuk ‘merawat’ tanaman ‘cinta’ itu, masa setelah berjalan sejauh ini kalian mau mundur??? Pun jangan lupa untuk selalu berusaha, dan berdoa, sebab : “Do Your Best, God Will Do The Rest”.

Tolong “share” ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada renungan di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : sayaevan.wordpress.com )

author