Tanpa Memori Tak Ada Jiwa

No comment 523 views

“Memori merupakan jiwa yang melekat pada bagian diri manusia, yang tak terpisah oleh waktu selama manusia itu hidup.”

Coba bayangkan bila dalam otak kita tidak ada memori yang tersimpan? Bagaimanakah kita menjalani hidup? Baik memori itu manis ataupun pahit bagi pengalaman hidup kita. Seharusnya hal yang patut kita lakukan adalah mensyukurinya, karena Tuhan masih perkenankan memori kita itu masih ada dan tersimpan baik dalam otak.

Kalau tidak demikian maka kita akan kesulitan dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari, karena kita dituntut untuk selalu melahirkan ide-ide baru dalam setiap waktu dan setiap hal yang akan kita lakukan. Menjadi manusia baru dan mengenal orang-orang serta benda-benda yang sama meski kita sudah mengenalnya. Jika kita tidak mempunyai memoritentang itu semua maka akan jadi menjenuhkan bagi orang di sekitar kita karena harus memperkenalkannya secara berulang pada kita.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah cerita dari pengalaman dosen yang mempunyai seorang putri berusia 18 tahun yang cantik dan unggul dalam bidang desain grafis, sayangnya putri tersebut mengalami gangguan tentang LTM (Long Term Memory). LTM adalah bagian memori yang relatif permanen. Jadi putri tersebut tidak dapat mengingat memori dalam jangka waktu yang panjang sehingga tidak dapat fokus dalam mengingat memori tersebut. Memori tersebut mengalami gangguan pada episodic memory (informasi tentang kapan sesuatu itu terjadi dan hubungan antar kejadian) dan procedural memory (mencakup cara melakukan sesuatu).

Hal ini mengakibatkan putri tersebut harus dihadapkan pada situasi yang sulit. Ia harus selalu mengenal segala sesuatunya sebagai hal yang baru, meski sudah mengenalnya berulang kali. Untuk mengenal saudara dalam anggota keluarganya saja, harus diingatkan setiap saat. Ketika sedang berkomunikasi anggota keluarga tersebut selalu menyebutkan namanya sendiri untuk mengingatkan putri tersebut. Kemudian untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari dalam melakukan sesuatu ia dibantu dengan sebuah catatan mengenai serangkaian hal yang harus dilakukan dari cara ia mandi, mencuci pakaian sampai cara makan serta cara mencuci peralatan makannya.

Begitu pula dalam mengingat kejadian baik yang telah, sedang, dan akan terjadi selalu terhambat. Semua itu karena tidak ada memori yang tersimpan dalam jangka panjang, hanya menjalani hal yang sedang dilakukan saja dan seketika itu juga akan hilang. Namun dengan dukungan dari keluarga yang penuh kasih sayang maka hal itu menjadi hal biasa dihadapinya.

Coba kita bayangkan jika hal tersebut menimpa kita, bagaimana kita akan mengahadapinya? Maka bersyukurlah kita terhadap Tuhan yang telah memberikan memori untuk kita simpan secara baik dalam otak kita. Kita mudah melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan memori yang ada dan tersimpan. Kita juga dapat mengakses secara cepat untuk mengingat kembali memori yang kita perlukan setiap saat.

Tidak perlu lagi mengenal hal-hal yang baru apabila kita sudah mengenalnya dalam memori kita. Itulah kelebihan yang kita miliki selama memori itu tersimpan secara baik. Maka di sinilah arti dari memori itu berlaku yaitu memori merupakan jiwa manusia itu hidup, karena kalau tidak ada memori maka kita tidak dapat mengenal, mengingat sesuatu, dan kita tak dapat pula melakukan apa-apa.

Sayangnya, terkadang manusia masih saja mengeluh terhadap memori yang dimilikinya karena terdapat bagian pengalaman yang pahit apabila diingat sehingga manusia cenderung berusaha melupakannya dan tidak menganggap memori itu ada. Dalam salah satu teori psikologi kognitif, hal ini sering disebut denganmotivated forgetting yaitu lupa terjadi karena adanya dorongan atau usaha untuk melupakan, biasanya hal-hal atau peristiwa yang tidak mengenakkan.

Hal ini dilakukan secara sengaja untuk melupakan dan berusaha menghilangkannya karena dihadapkan pada sesuatu yang tidak menyenangkan bagi manusia. Manusia itu takut apabila peristiwa itu terulang kembali sehingga bagaimanapun caranya seseorang melakukan motivated forgetting.

Seperti yang dilakukan oleh teman saya, untuk melupakan ayahnya yang telah sengaja meninggalkannya dan menyakiti hati ibunya, ia rela dan secara sengaja melupakan ayahnya. Untuk mengingat dan mengenalnya kembali saja tidak mau. Bahkan sampai ayahnya meninggal pun ia tidak ingin mengetahuinya.Ia juga tidak menjalin tali persaudaraan dengan keluarga ayahnya sepeninggal ayahnya.

Seandainya kita mau menyadari dan merenunginya segala sesuatunya pasti mempunyai segi positif dibalik sisi negatifnya. Jika kita mampu bersikap bijak pada situasi tersebut maka tidak akan sia-sia memori itu ada bila kita mengingatnya. Hal ini dimaksudkan agar kita belajar dari pengalaman yang sudah kita miliki, didukung dengan memori yang tersimpan dalam otak kita masing-masing. Kita tidak lagi mengeluh karena memori yang dimiliki meskipun tidak menyenangkan tapi selalu bermanfaat. Ini memberikan makna terhadap setiap pengalaman sekaligus jiwa dari manusia itu hidup. Apabila tidak ada memori, maka tidak ada jiwa bagi eksistensi manusia itu ada.

Menurut Frankl dalam teorinya berpendapat bahwa “Apa yang berarti dalam eksistensi manusia, bukan semata-mata nasib yang menantikan kita, tetapi cara bagaimana kita menerima nasib itu”. Frankl percaya bahwa arti dapat ditemukan dalam semua situasi, termasuk penderitaan dan kematian. Dia menulis, hidup adalah menderita, tetapi untuk menemukan suatu arti dalam penderitaan seseorang ialah tetap dalam keadaanhidup.

Pandangan Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti. Kemauan akan arti dan arti kehidupan adalah kebutuhan kita yang terus-menerus mencari bukan diri kita melainkan suatu arti untuk memberi maksud bagi eksistensi kita. Semakin kita mampu mengatasi diri kita, memberi diri kita kepada suatu tujuan atau kepada seseorang akan menjadikan kita manusia sepenuhnya. Arti yang kita cari memerlukan tanggung jawab pribadi yaitu untuk menemukan cara kita sendiri dan tetap bertahan di dalamnya segera setelah ditemukan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam situasi serta kondisi apapun baik bahagia ataupun menderita seseorang diharuskan dapat mengetahui akan arti dari keadan tersebut. Sebagaimana sebuah pengalaman yang menyenangkan ataupun tidak tetap dapat diterima, karena telah menjadi bagian dari memori kita. Tetap bertahan dalam keadaan apapun apalagi setelah mengetahui arti dari semua itu. Sebagai manusia yang sehat secara psikologis dan menjadi manusia yang berfungsi sepenuhnya maka kita dituntut untuk bertanggung jawab secara pribadi untuk menemukan arti dari setiap pengalaman yang telah menjadi bagian memori kita.

Memori merupakan suatu kelebihan yang kita miliki untuk mengingat pengalaman serta memberikan arti pada pengalaman tersebut. Dengan begitu kita dapat melihat gambaran kepribadian diri sendiri, dengan memoriyang dimiliki. “Dengan memori itu juga memberikan jiwa pada kehidupan kita.” Untuk mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan dan memberikan nilai atau arti pada pengalaman yang sudah terjadi. Kalau tidak demikian maka kita tidak mempunyai jiwa dari eksisitensi manusia hidup tanpa bisa melakukan apa-apa karena kita tidak menyimpan suatu memori yang berarti.

Oleh: Nur Sari Ningrum

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author