Telunjuk Si Mbah

No comment 1462 views

Permukaan tanah itu tak lagi basah. Namun gundukannya jelas berkata bahwa seseorang dikuburkan belum lama. Memang baru dua hari dua malam sukma itu diminta kembali pemiliknya. Dan raga pun harus rela sendirian dalam rumah sempit bernama lubang kubur.

Untuk kesekian kali, air mata mengalir kembali. Isak pun seolah enggan terhenti, seiring dengan pundak yang naik turun berguncang seirama. Lelaki yang baru kunikahi belum ada tiga purnama itu menyentuh pundakku lembut. Seolah berkata bahwa sudah cukup aku berduka. Semua adalah kehendak-Nya. Di luar kuasa kita yang hanya sebagai hamba.

“Sudah, mbah tahu kok kalau kita menyesal datang terlambat. Beliau pasti bisa mengetahui kedatangan kita. Semua telah terjadi. Yang paling penting sekarang adalah mendoakan beliau, agar mendapat tempat layak di sisi-Nya.” alunan suaranya lembut, menyadarkanku agar tak terus terlarut.

Ya, hanya doa yang mampu kukirimkan pada mbah sekarang. Bukan lagi uang, balsam, atau pun nginang.

Kusapu nisan dengan guratan Sarmi yang masih tajam. Lalu kutundukkan kepala dalam. Seluruh pengharapan kupersembahkan agar Dia mengabulkan doa yang kupanjatkan. Dan agar mbah di alam kubur sana tersenyum melihatku datang. Meski terlambat satu hari…

Kamis pagi, adalah awal segala penyesalan ini. Rutinitas sama dengan seorang teman seperjalanan kehidupan yang baru—suamiku. Ya, seperti biasa, Senin ke Jumat di hari terang aku mencari uang. Ketika petang kehidupan kulanjutkan di bangku perkuliahan. Seperti pagi itu, kami siap berangkat ke Ujung Surabaya dimana setumpuk gambar telah menanti untuk diselesaikan.

“Mbak Indar, ada telpon. Dari saudaranya di Pati.” teman kosku memanggil dari ruang tengah. Kamar kos kami terletak di bagian belakang rumah yang difungsikan sebagai kos-kosan juga. Bergegas aku menuju ruang tamu dimana telpon diletakkan.

Waktu itu memang belum booming ponsel seperti sekarang sehingga untuk menjalin komunikasi jarak jauh masih memanfaatkan jasa telepon rumah, atau kantor. Kuangkat gagangnya, suara mbak Eri, kakak nomor tigaku menyapa. Bertanya kabar kami bagaimana, kujawab baik-baik saja.

“Kamu diarep-arep (sangat diharapkan) pulang.” kata mbak Eri kemudian.
Kuakui, ini adalah rentang kepulanganku yang terpanjang. Sewaktu bujang, aku biasanya menyempatkan diri pulang Pati sebulan sekali. Dan kali ini, hampir tiga bulan setelah pernikahanku dilangsungkan.

“Ya, besok Jumat sore sekalian. Aku sungkan harus minta ijin. Pekerjaanku banyak lagipula cuti tahunan sudah habis. Sekarang juga sudah siap-siap mau berangkat.” Aku memberi alasan.
“Mbah sakit. Bla bla bla…”

Aku mengangguk mendengar kata-kata mbak Eri selanjutnya. Anggukan yang tentu tak tertangkap matanya di seberang sana. Hubungan telepon selesai, aku kembali ke kamar dan menceritakan isi pembicaraan barusan kepada suamiku. Dia setuju kami pulang jumat sore.

Maka sisa hari itu berjalan seperti biasanya kecuali berangkat kuliah. Seolah tiada lagi daya manakala sore sepulang kerja datang sebuah berita.
“Mbaknya tadi telpon mbak.” teman kos yang lain menyambut kedatangan kami di depan. “Saya bilang mbak Indar belum datang. Katanya nanti mau telpon lagi.”

Entah mengapa, tiba-tiba saja sebentuk kecemasan menelusup di relung-relung hatiku. Mbak Eri sudah telpon tadi pagi. Untuk apa dia telpon lagi kalau bukan karena sesuatu yang sangat penting?
Belum sempat berganti seragam, dering itu kembali terdengar. Secepat kilat kuraih gagangnya. Namun seolah film yang diputar lambat, tak terhingga detik kuhabiskan untuk meletakkan kembali ke tempatnya. Langkahku pun seolah kehilangan arah menuju kamar.

Sampai di depan pintu, tanpa kata kutubruk tubuh suamiku dan menghempaskan segala beban di dadanya.

“Ada apa?” tanyanya di sela isakku. Tangannya mengelus punggung dan sesekali mencoba menghapus air mata membasah di pipiku.
“Mbah meninggal,” jawabku lirih di sela sedu sedan. Usai kata itu mampu kulafalkan, kubenamkan kembali wajahku di dadanya. Tak peduli membasah di kemejanya.

Petang memburam, membawa lenyap mood-ku untuk ke kampus. Yang tersisa hanya penyesalan, kenapa aku tak bersegera pulang tadi pagi. Aku, kami, memang dekat dengan mbah. Selain karena rumah kami bersebelahan, juga lantaran beliau adalah satu-satunya sosok mbah yang kumiliki.

Ibu dari ibu sudah menjanda sejak kakak nomor duaku masih balita. Sedang kakek dari pihak bapak yang masih sempat kunikmati kehadirannya berada jauh di Wonogiri. Otomatis, hanya mbah Mi—demikian biasa beliau dipanggil–sosok generasi dua tingkat di atas kami yang cukup dekat.

Namun kalau kedekatan itu sedekian rapat di hati mbah sehingga menginginkanku pulang di hari terakhirnya, aku tak pernah tahu. Seperti tak tahunya kedekatan seseorang pada sang ajal. Di telepon mbak Eri tak menceritakan seberapa parah sakit mbah. Dengan usia tujuh puluh tahunannya, adalah wajar kalau beliau sedikit-sedikit mengeluh encok, atau darah tinggi kumat. Pun kukira, yang lebih menginginkanku pulang adalah ibu, sosok yang paling dekat dalam kehidupanku.

Menyadari pulang malam itu tak ada artinya lagi, kami memutuskan untuk kembali ke rencana semula, pulang jumat sore saja. Turun dari bis yang membawa kami dari Surabaya, jam menunjuk ke dini hari. Dengan bantuan tukang becak, kami diantar sampai depan rumah.

Senyap sekeliling, hanya suara suamiku yang membayar ongkos becak dan berterima kasih pada pengayuhnya, lalu derit becak yang menjauh meninggalkan kami. Meninggalkanku termangu di halaman depan.

Sekeras apapun mataku menyapu rumah sebelah, tanda-tanda terakhir keberadaan mbah tak kutemukan. Semua rapi seperti sedia kala. Tak ada tong air yang biasa digunakan untuk memandikan jenazah, juga pengajian. Harapan tak rasional yang kupupuk lantaran penyesalan itu tentu bersambut keheningan dini hari.

Kuketuk pintu, mbak Eri muncul tak lama setelahnya. Di belakangnya, seraut wajah ibu mengikuti. Kami berpelukan, berbagi air mata. Sembab duka tergambar jelas di raut kami bertiga. Lalu ketika tangis mereda, kami berbagi cerita. Cerita tentang hari-hari terakir mbah yang semakin menghempaskanku dalam jurang penyesalan yang dalam.

“Mbah kemarin dulu sempat tanya, kenapa kamu kok nggak ninggali uang seperti biasanya.” Ibu buka suara yang seketika membuka ingatanku pada kekonyolan sikapku.

Di kepulangan sebelumnya, mendapat cerita dari mbak Eri tentang sikap-sikap mbah yang tak kami setujui, aku memilih protes diam-diam pada mbah. Setiap pulang, sedikit apapun itu, aku memang biasanya memberi beliau uang. Nilainya memang tak seberapa, namun kebanggaan diberi oleh cucu perempuannya yang bekerja di pabrik kapal di Surabaya mengalahkan itu semua.

Aku sungguh tak mengerti, emosi apa yang melandasi perubahan kebiasaan baikku waktu itu. Padahal uang telah berada di genggaman, mengapa tak kuangsurkan? Sebuah keputusan emosional yang terbukti sepanjang hidup kusesali.

“Waktu mbah mulai sakit-sakitan, ibu pernah menawari untuk membelikan balsem. Ibu lihat balsemnya sudah mau habis. Tapi mbah menolak. Katanya menunggu dibelikan Indar saja.” kembali ibu berkata-kata yang menjungkalkanku seketika.

Balsem, adalah satu hal lain yang takkan pernah kulupa jika mengingat mbah. Benda itu selalu berada di kotak nginang mbah, bersama peralatan nginangnya yang lain. Beliau, entah tersugesti apa, selalu mengoleskan balsem sebagai obat jika merasa kurang enak badan. Saking seringnya, bau khas itu menguar bersama aroma badan mbah. Aroma yang sempurna terpeta di kepalaku. Aroma menenangkan ketika dekat dengan badan beliau yang gemuk.
Balsem bermerk sama pernah kubelikan buat mbah kosku saat masih sekolah dulu. Hal remeh seperti itu ternyata sangat berharga dan masih diingat beliau saat kami kembali berjumpa. Sedihku, menyesalku, kalau aku mampu membahagiakan mbah kos dengan benda seremah itu, mengapakah kesempatan itu justru terlewat pada mbah kandungku?

Saat menulis ini, seolah membayang di hadapanku sosok beliau dengan langkah gesitnya menata batu-batu yang berserakan di halaman rumah sambil susuran. Batu-batu yang kami obrak-abrik saat bermain lempar kaleng, yang kelontangannya membuat tidur siang beliau terganggu.

Meski mbah suka marah, aku tak tahu kalau ternyata kedudukanku begitu istimewa di hatinya. Mungkin karena aku satu-satunya cucu yang pernah disusuinya. Meski tentu pura-pura saja agar tangisku reda. Waktu itu ibu memang tengah berada di rumah sakit, melahirkan adikku. Mbah lah yang menjaga kami semua.

Peristiwa dikeloni dan disusui mbah itu adalah salah satu cerita favoritku jika kami berbagi masa lalu. Ketika jejak masa kecil tak mampu terbaca di ingatan kita, adalah suatu hal yang istimewa jika orang dewasa menceritakannya. Hal itu, otomatis memperkuat jalinan hati kita dengan si pencerita. Di binar mata dan senyum terkembangnya lah fragment kehidupan itu mampu kita cerna. Dan mbah, sering berbagi itu dengan duduk di amben bambu sambil nginang.

Tentang nginang itu sendiri, aku sebenarnya kadang merasa risi, jijik. Apa enaknya daun sirih itu dikunyah dengan injet (kapur) dan mbako? Aku pernah mencoba, namun kuludahkan segera. Getir sekali. Apalagi setelah itu susur yang merupakan irisan tipis daun tembakau kering yang sudah digulung kecil itu diputar-putar di sekitaran gigi depan dan samping mbah. Jijiknya, seluruh bagian mulut berwarna merah. Termasuk ludah mbah. Namun mengingatnya sekarang, tak ada hal yang lebih dramatis selain itu.
“Aku gelem dipundhut nek wis ngeterna Indar mantenan mengetan (Aku mau dipanggil yang kuasa jika sudah mengantar Indar menikah ke arah Timur–Surabaya).” kata mbah suatu ketika.

Kami banyak tak mempedulikannya. Siapa pun boleh menginginkan ajalnya datang kapan saja. Namun tak ada yang sadar bahwa kata-kata beliau itu bisa jadi pertanda juga. Terbukti kemudian, harapan beliau menjadi kenyataan. Beliau menghadap-Nya hampir tiga bulan setelah mengantar kami ke Surabaya. Acara ngunduh mantu di rumah mertua dilaksanakan sepasar setelah pernikahan. Dan beliau, salah seorang tua yang ikut dalam rombongan.

Sayangnya, aku tak mampu mengantar beliau ke peristirahatan terakhir. Padahal, menurut cerita ibu dan mbak Eri, hanya aku yang diharapkan oleh beliau di saat-saat terakhirnya.

“Sampeyan ngenteni sapa Mak (menunggu siapa Mak), tanyaku,” ibu bercerita. “Waktu itu mbah sudah tak mampu berkata-kata. Tiduran saja. Kami sadar, sudah dekat waktunya.”

Aku menyimak, dan ibu melanjutkan ceritanya.

“Kun? Mbah menggeleng. Kayat? Mbah menggeleng juga.” Ibu mengambil jeda, nafas kuhela. “Baru kemudian tangannya menunjuk kea rah Timur. Indar, tanyaku. Mbah mengangguk.”

Aku tercekat. Memiliki sepuluh anak, beberapa diantaranya pergi merantau, bahkan ada yang kehilangan kontak hingga sekarang, adalah suatu hal wajar jika seorang ibu menginginkan anak hilangnya hadir di saat-saat terakhir. Namun mungkin sedikit berbeda ketika yang dinanti justru cucunya. Dan orang itu adalah aku, yang justru tak mendapat firasat apa-apa di Surabaya.

Jika ada pepatah kasih ibu sepanjang jalan kasih anak sepanjang galah, pada kasusku, penafsiran ibu disana perlu diperluas. Ibu adalah juga nenek, yang begitu mencintai dan mengharapkan kehadiran cucu tersayangnya. Tak peduli di saat terakhir sang cucu justru mengecewakannya.

Beranjak meninggalkan raga mbah bersemayam, sekuntum kamboja luruh menimpa kepalaku. Pekuburan yang hanya selemparan batu di belakang rumah yang dulu akrab sebagai tempat bermain itu kini menjadi persinggahan terakhir raga mbah, sebelum waktu mengirim ke asalnya, bumi.

Merasakan kasih sayang orang terdekat kita—ibu, bapak, pasangan hidup, atau pun teman—adalah suatu hal yang wajar dan menyenangkan. Namun menyadari kedalaman kasih sayang itu justru setelah orangnya berpulang, amat lah menyakitkan. Apalagi ketika kita justru merasa belum sempurna membalasnya.

author