Tuntutan Mengembangkan kognitif terlalu cepat; baikkah?

Banyak keluhan orang tua mengenai anaknya yang belum bisa diajak cepat untuk belajar membaca, menulis dan berhitung. Hal yang agak aneh memang, saat ini anak-anak pra sekolah sudah dipaksa untuk bisa membaca, menulis dan berhitung. Orang tua akn sangat bangga jika anaknya menguasai kemampuan tersebut pada usia yang masih sangat dini. Oleh karena itu, mereka memiliki kecenderungan untuk memasukkan anaknya ke PAUD atau TK sedini mungkin. Apalagi dipilih TK yang pavorit dan mengajarkan anak-anaknya lancar membaca, menulis, dan berhitung.

belajar3

Keinginan orang tua ini juga dilatarbelakangi persyaratan memasuki Sekolah Dasar pavorit yang mewajibkan calon peserta didiknya untuk lancar membaca, menulis, dan berhitung. Lain hal nya dengan dahulu, di Sekolah Dasar lah anak baru akan diajari membaca, menulis, dan berhitung. Selain itu, mamasuki SD dahulu anak harus berusia 6.5-7 tahun, namun sekarang anak 5-6 tahun pun bisa masuk Sekolah Dasar.

Terjadi pergeseran yang sangat pesat memang antara pendidikan anak di jaman dahulu dengan sekarang. Ketika jaman dahulu, anak usia dini dibiarkan bermain dan memperoleh kegembiraan alamiahnya, kini justru mereka dipaksa untuk belajar. Berbagai ketakutan para psikolog anak tentu saja muncul melihat fenomena ini, pasalnya jika anak tidak menyelesaikan tugas perkembangannya (yang dimaksud pada usia ini adalah bermain) maka tahap perkembangan selanjutnya akan terganggu. Lalu, apakah memaksakan anak untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya lebih cepat itu baik? Untuk dapat menjawabnya, maka kita harus memahami tahap perkembangan literasi anak.

author