Underestimate, Over Estimate, Cover Up

No comment 558 views

Istilah jaim (jaga image) sudah menjadi istilah pembicaraan sehari-hari. Kita semua—kalau mau jujur—pastinya cukup sering melihat orang melakukan pekerjaanjaim tersebut, dan pada saat yang sama juga melakukan aktivitas jaim di kehidupan kita sehari-hari. Contohnya, saya tidak mungkin tertawa terbahak-bahak selepasketika saya sedang tertawa di depan teman-teman dekat saya sendiri. Saya tak mungkin tertawa terbahak-bahak ketika, misalnya, saya sedang berada di depan kumpulan group ibu-ibu orang tua murid di sekolah anak saya, di mana saya tidak kenal dengan mereka. Dan, saya sangat tidak berharap ada kesan bahwa Mamanya si Jessie (nama anak saya) tidak bisa menjaga sikap, urakan, agak enggak beres, atau ketiga kesan itu kumpul menjadi satu.

Saya yakin, kita semua ada cerita sendiri-sendiri mengenai kapan dan mengapa aktivitas jaim ini kita lakukan. Namun kalau mau jujur, sebenarnya jaim itu adalah suatu aktivitas yang lumayan meletihkan. At least bagi saya. Capek deh kalau setiap saat harus jaim. Dan lagian, ternyata apa yang menurut kita sudahjaim belum tentu di pandangan orang lain yang melihatnya sudah seperti itu.

Contoh, suatu ketika saya pernah di-interview oleh wartawan sebuah majalah traveling. Mungkin,karena saya dianggap cukup sering traveling. Namanya interview, bohong-benar kalau on some level kita yang sedang di-interview tidak melakukan aktivitas jaim. Namun, terserah Anda mau percaya apa tidak, ada masa-masa di kehidupan kita—mungkin dengan bertambah usia— kita lama-lama tidak sadar sedangjaim atau memang itulah kita apa adanya.

Ketika copy majalah sampai di rumah, yang melakukan interview menulis mengenai  saya bahwa baginya kualitas terbesar saya adalah ‘her humble sincerity’. Anehnya, banyak orang bilang kalau enggakkenal saya beneran kelihatannya saya ini orangnya sombong. Jadi, Anda bisa bayangkan kalau kita harusjaim terus-menerus memikirkan apa pendapat orang mengenai diri kita. Betapa letihnya kita dan belum tentu juga ngefek. Sebab, kalau orang sudah ada pendapat tersendiri mengenai kita, rasanya akan cukup sulit mengubah image tersebut.

Anyway, tak lama kemudian wartawan yang begitu baiknya menyebut saya memiliki kualitas sebagai manusia yang humble (rendah hati) dan sincere (tulus) itu menghubungi saya. Dia bertanya apakah saya bersedia menjadi kontributor di  majalah tersebut. Saya jawab saya lihat dulu tulisan seperti apa yang dibutuhkan, dan beliau menjawab akan mengirim e-mail mengenai hal itu. Ketika e-mail saya buka, singkat kata wartawan tadi benar-benar over-estimate kemampuan saya, baik dari sisi menulis dalam bahasa asing maupun pengetahuan saya mengenai traveling. Sedangkan saya sendiri under-estimatepengetahuan sebagian orang mengenai apa yang mereka ketahui. Dan, pada saat yang sama over-estimate mengenai sebagian kelompok orang lagi mengenai apa yang mereka tahu.

Saya over-estimate bahwa kalau orang bisa menulis buku mengenai kesehatan, artinya dia pasti olahraga teratur tiga kali sehari. Saya over-estimate bahwa kalau orang memimpin suatu perusahaan pastinya dia serba tahu. Saya under-estimate bahwa orang yang baru lulus kuliah pasti tidak banyak tahu apa-apa. Ternyata tidak semuanya selalu seperti itu.

Saya pun akhirnya mencoba tetap humble dan sincere. Saya membalas e-mail wartawan itu dan berkata bahwa sepertinya kemampuan saya dalam hal ini sudah di-over-estimate. Saya belum sanggup menulis seperti contoh yang diberikan, namun saya bisa memberi beberapa tips lepas—yang bila ada yang mau merangkumnya kembali dalam tulisan ke bahasa Inggris—minimal saya bersedia membantu,tulus tentunya.

Setelah kejadian itu saya berpikir, berapa kali saya over-estimate orang lain atau under-estimate dan mana yang lebih baik? Di-over-estimate atau di-under-estimate oleh orang lain? Well, jika orang lain over-estimate kita, artinya apa yang sebenarnya kita adalah KURANG dari apa yang dipikirkan orang, dan juga diharapkan dari orang itu. Sedangkan jika kita di-under-estimate oleh orang lain, artinya apa yang sebenarnya diri kita ini LEBIH dari apa yang orang pikir.

Maka dari itu kalau dipikir pikir lagi, walau dianggap remeh oleh orang lain, yang pasti lebih menyebalkan daripada dianggap  lebih dari apa adanya kita. At the end of the day, hanya kita yang tahu sesungguhnya kita itu seperti apa.

Sebagai penutup, ada kenalan saya yang cerita bahwa hobinya mengumpulkan mobil dan jam. Mungkin itu benar, mungkin itu jaim. Mungkin dengan ceritanya itu sebagian orang akan menganggap dia kaya raya, sebagian lagi akan menganggap dia suka pamer. Lalu, sebagian lagi mungkin hanya sirik, tapi lagi-lagi at the end of the day, hanya diri kita sendiri yang tahu, sebenar-benarnya dansesungguh-sungguhnya kita itu siapa, bisa apa, dan tidak bisa apa. Dan, bila kita enggak suka dengan apa adanya kita itu, hanya kita juga yang tahu mesti diapakan dan apakah kita mau melakukannya.

Oleh: Alexandra Dewi

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author