Ungkapan Hati Seorang Ayah

No comment 2887 views

Anakku,

Bagaimana kabarmu hari ini? Ayah berharap kau selalu menjadi kebanggaan Ayah dan Bunda.

Nak,…

Saat Ayah pulang tadi, Bunda memberi tahu bahwa kau sedang pergi keluar untuk mengikuti les. Saat ini, sedang apa kau di sana? hari ini ketika Ayah pulang dari bekerja di luar sana, tiba-tiba Ayah teringat kamu, Nak.

Masih terekam dengan  baik dalam ingatan Ayah, dahulu ketika mendapat kabar dari Bunda bahwa ia sedang mengandungmu. Betapa gembiranya Ayah sampai-sampai tak peduli kalau semua orang memandang Ayah yang berteriak karena senang.

Sejak saat itu, Ayah merasakan ada sesuatu yang membebani kaki ayah hingga begitu berat melangkahkan kaki keluar rumah untuk pergi ke mana saja, Ayah ingin selalu menjaga dan membelaimu, yang berada di dalam perut Bundamu.

Selama sembilan bulan sepuluh hari Ayah tak pernah melewati momen-momen yang terjadi pada Bunda bersama denganmu, Nak. Hingga waktu itu akhirnya tiba juga. Bunda melahirkanmu dengan selamat, saat itu Ayah selalu berada di sisi Bunda, tak pernah meninggalkannya sedetik pun, Ayah sangat menantikan kehadiranmu Nak.

Setelah kau hadir di dunia ini, Ayah berjuang untuk bekerja lebih giat, mencari nafkah demi menghidupi keluarga, termasuk kamu, Nak. Ayah tak merasa lelah meski harus pulang lebih lama. Ayah ingin kehidupanmu, masa depanmu, benar-benar terjamin. Kadang Bunda menasehati Ayah agar jangan bekerja terlalu keras, khawatir bisa sakit, namun Ayah katakan pada Bunda “Ayah senang melakukan ini semua, Bunda, demi anak kita.”

Ketika kau memasuki usia sekolah, kau berangkat dengan gembira, berpamitan dengan Bunda dan pergi dengan Ayah. Setelah kau menginjak bangku sekolah yang lebih tinggi, kau mulai malu karena Ayah selalu mengantarmu, kau minta agar Ayah tak perlu lagi mengantarmu. Cukup kaget Ayah saat itu, namun Ayah tahu bahwa kau sudah mulai beranjak lebih dewasa.

Ayah selalu berpesan agar pulang sekolah kau harus pulang dulu ke rumah sebelum kau pergi lagi dengan teman-temanmu. Namun, nasehat Ayah ternyata hanya kau ‘iya kan’, lewat Bunda, Ayah tahu bahwa kau selalu pulang terlambat tanpa ada pesan. Kau sudah membuat Ayah dan Bunda begitu khawatir. Ayah memang keras saat itu, memarahimu agar jangan mengulang hal itu lagi, namun Ayah tahu bahwa kau masih melakukannya.

Ayah kembali memarahimu. Namun, Bunda lebih memanjakanmu. Ketika Ayah bicara kau selalu cuek bahkan kau jalan melewati Ayah begitu saja, masuk ke kamarmu, padahal kau tahu Ayah sedang bicara denganmu. Ayah sempat berpikir, Ayah terlalu keras kepadamu yang membuatmu menjadi kesal. Ayah minta maaf, Ayah lakukan semua ini demi kebaikanmu, Nak.

Anakku…

Usiamu semakin dewasa, kebutuhanmu pun semakin bertambah. Uang yang Ayah berikan begitu cepat kau habiskan, sehingga kau sering meminta uang lebih kepada Ayah. Ayah berharap kau bisa mengerti kondisi Ayah, usia Ayah semakin tua, pekerjaan yang bisa Ayah lakukan pun semakin sedikit sehingga pendapatan Ayah berkurang. Namun kau selalu membalas kata-kata Ayah dengan nada lebih tinggi, “Ayah, kebutuhanku semakin banyak dan uang yang biasa Ayah kasih sudah tidak cukup lagi. Aku minta uangnya ditambah!”

Nak, …

Ayah dan Bunda merindukan sosok dirimu seperti yang dulu. Ayah tahu kau tumbuh dan berkembang, Ayah hanya minta darimu agar kau bisa mengerti kondisi Ayah dan menjadi anak yang baik dan berbakti kepada Ayah dan Bunda.

Nak, …

Belum pernah Ayah bersedih seperti ini, Ayah sadar saat ini Ayah sangat merindukanmu, Ayah ingin lebih dekat denganmu, Nak.

Ayah, Yang selalu menyayangimu

Tolong “share” ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada renungan di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : motivationplannet.wordpress.com )

author