Warisan Hidup Paling Berharga

No comment 808 views

Ada sebuah kegiatan yang hampir selalu dilakukan oleh setiap keluarga begitu ditinggalkan orang tua : membagi warisan. Positifnya, ini membuat putera-puteri yang ditinggalkan orang tuanya memiliki nafas yang relatif lebih panjang dalam hidup dan kehidupan. Negatifnya, warisan juga mengurangi keikhlasan orang-orang yang ditinggalkan. Anda bisa bayangkan, bagaimana tingkat kemurnian dan keikhlasan doa sekumpulan orang, kalau di kepalanya senantiasa terbayang tanah, rumah, mobil yang sebentar lagi menjadi milik kita secara gratis.

Entah bagaimana pengalaman Anda bertutur, pengalaman saya melayat di banyak keluarga yang kaya secara materi menunjukkan, justru unsur negatifnya yang lebih sering kelihatan. Baru saja dokter mendeklarasikan bahwa pasiennya meninggal secara medis, dan belum sempat mayat almarhum (almarhumah) dimandikan, mata orang-orang yang hadir sudah dipenuhi dengan kecurigaan dan kebencian. Ada kecurigaan, jangan-jangan saat pembagian warisan nanti ia dibohongi kakak atau adiknya. Ada kebencian, bahwa sang orang tua sakit dan kemudian meninggal disebabkan oleh kenakalan salah seorang anaknya.

Sehingga dalam totalitas, warisan kekayaan materi yang diniatkan hampir semua orang tua sebagai lambang limpahan cinta dan kasih sayang, di ujung kematian pemiliknya justru berubah menjadi kecurigaan dan kebencian. Entahlah, apakah orang meninggal mengenal kegiatan sedih dan menangis. Yang jelas, kalau saja mereka bisa menangis, mugkin tangisan mereka amat mengharukan. Gunungan harta yang dikumpulkan dengan jutaan tetesan keringat dan banyak pengorbanan, ternyata pada akhirnya hanya berfungsi sebagai sarana kebencian dan permusuhan.

Sebagai seorang penutur kehidupan, yang meramu pengalaman dan bacaan ke dalam rangkaian cerita, sering kali saya dipaksa oleh sang kehidupan untuk bertutur apa yang saya pribadi alami. Kadang rikuh dan malu. Sebab, mudah sekali tergelincir dalam kesombongan dan keakuan.

Namun, wibawa dan karisma sebuah cerita akan jauh lebih tinggi kalau kita menceritakan apa yang kita lakukan.

Dalam spirit terakhir, izinkan saya bertutur apa yang dilakukan sang kehidupan pada diri saya pribadi. Dan maafkan kalau ada yang menyimpulkan bahwa saya sedang tergelincir dalam kesombongan dan keangkuhan – sebuah resiko yang harus saya ambil untuk menjaga wibawa cerita.

Setahun lebih setelah ayahanda tercinta meninggal dunia, kami sekeluarga memang dihadapkan pada keharusan untuk mengkavling sejumlah warisan yang ditinggalkan. Dalam ukuran orang kaya di kota, jumlah harta yang ditinggalkan memang tidak seberapa. Namun, bila ukurannya adalah kehidupan orang miskin di desa, syukur sekali Ayah meninggalkan banyak perpanjangan nafas kehidupan.

Sebagaimana biasa, membagi harta bukanlah perkara yang terlalu mudah. Namun, seorang saudara wanita menyebut saya sebagai orang bodoh.

Sebab, mengikuti saja kehendak kakak-kakak tanpa pemikiran dan penolakan berarti. Dan dalam setiap arah pembicaraan yang menuju konflik, saya menyediakan diri sebagai pihak yang mungkin bisa memperoleh lebih sedikit.

Alasannya sederhana, burung gereja tidak menanam pohon, tidak bekerja, tidak sekolah, tidak berdoa namun diberi penghidupan oleh Tuhan. Masak manusia dengan sejumlah kelebihannya dibiarkan sengsara. Inilah kerangka hidup dan kehidupan saya. Suka tidak suka, setuju tidak setuju, inilah yang kerap saya lakukan. Tidak saja berkaitan dengan pembagian warisan, dalam mempertahankan kursi kekuasaanpun, sikap yang serupa sering menandai hidup saya. Silahkan diambil kapan saja saya rela. Bagi orang Amerika yang asertif, mungkin ini disebut dengan kebodohan yang pasif. Namun bagi orang bodoh seperti saya ini, sikap-sikap seperti ini diharapkan bisa menjadi warisan keteladanan bagi putera-puteri saya di rumah.

Kembali ke cerita awal tentang warisan, ia memang bisa menaikkan libido keserakahan. Menghilangkan keikhlasan dalam berdoa. Dan bukan tidak mungkin menghancurleburkan sejumlah keluarga yang membaginya. Dan karena demikian mahalnya harga semua ini (libido keserakahan, keikhlasan doa dan keutuhan keluarga), maka sampai sekarang saya termasuk orang yang tidak terlalu bercita-cita untuk mewariskan banyak harta pada anak-anak.

Bukan karena tidak mencintai dan tidak mengkhawatirkan masa depan anak, tetapi karena saya memiliki pengertian berbeda tentang warisan yang paling berharga dalam hidup. Warisan hidup yang paling berharga, paling tidak menurut orang pasif dan tidak asertif seperti saya ini, adalah keteladanan-keteladanan hidup. Dan saya sudah memperolehnya lebih dari cukup dari Ayahanda tercinta. Beliau bukan saja mewariskan harta, namun keteladanan-keteladanan hidup yang mengagumkan. Salah satunya mengisi seluruh hidupnya dengan cinta dan kesederhanaan hidup. Bahkan, saya merasakannya sendiri, cintanya berumur lebih panjang dari umur badan kasarnya.

Harta memang akan hilang dan musnah oleh waktu. Namun, keteladanan akan menghuni hati dan jiwa setiap anak dan cucu yang kita tinggalkan. Inilah alasan paling sederhana kenapa cinta saya amat mendalam terhadap almarhum Ayahanda tercinta. Selamat jalan ayahanda tercinta, keteladananmu sudah saya teruskan pada banyak orang yang juga membaca tulisan singkat ini.

– Gede Pratama

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : www.dj-community.or.id )

author