Waspadai Penyakit Cacingan Pada Anak

No comment 749 views

Diperlukan cara yang tepat untuk mengatasi bayi cacingan. sebab Penyakit yang sering terjadi ini sangat menganggu tumbuh kembang anak.

Cacingan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara tropis, tidak terkecuali Indonesia. Ini adalah gangguan kesehatan akibat adanya cacing parasit di dalam tubuh.

Sekilas tidak ada yang salah dengan Mira, siswi kelas III SD di Jakarta Selatan. Tapi entah mengapa, di kelas Mira selalu tampak tidak bergairah, lemas, dan mengantuk. Akibatnya, dia pun tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Setelah diperiksa, ternyata Mira positif mengidap cacingan. Bank Dunia menyatakan bahwa cacingan menurunkan kualitas sumber daya manusia, terutama di negara berkembang. Berdasarkan hasil survei diare Departemen Kesehatan RI tahun 2002 dan 2003, sebanyak 40 SD di 10 provinsi menunjukkan prevalensi penyakit cacingan yang berkisar antara 2,2–96,3 persen.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan dua tahun terakhir ini di SD Kali Baru Kelurahan Kalibaru, Jakarta Utara, menunjukkan prevalensi penyakit tersebut masih sebesar 60 persen. Namun, persentase tersebut bergerak turun pada 2010, ketika tim peneliti melakukan survei tahun lalu di SD Paseban, di mana hanya 19 anak yang positif menderita cacingan.

Adapun di Pesantren Tapak Sunan di bilangan Condet, dari 360 siswa, hanya 9 orang yang mengidap cacingan. “Kalau hasil penelitian menunjukkan banyak anak terkena cacingan, maka kami memberlakukan sistem pengobatan massal. Tapi kalau hasilnya hanya sedikit yang mengidap penyakit ini, maka pengobatan diberikan hanya kepada yang positif,” ujar Prof dr Saleha Sungkar DAP&E MS dari Departemen Parasitologi, FKUI, dalam acara “Program Edukasi Bahaya Cacingan di Sekolah & Hari Waspada Cacing Nasional 2011” beberapa pekan lalu di Jakarta.

Cacing yang sering menginfeksi manusia adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale).

Saleha menjelaskan, cacingan menyebabkan anak menjadi kurang gizi, anemia, dan kecerdasan menurun.

“Ini terjadi karena cacing menyebabkan diare, menyerap zat gizi, vitamin, dan darah, serta menimbulkan perdarahan di usus,” kata Saleha. Akibatnya, lanjut Saleha, anak mengalami hambatan perkembangan fisik, kecerdasan, produktivitas yang menurun, serta penurunan daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit lain.

Sejumlah cacing yang menutupi mukosa usus halus bahkan akan menghambat penyerapan zat gizi dan vitamin A sehingga mempermudah terjadinya rabun senja dan kebutaan pada anak.

Cacing gelang bahkan dapat bermigrasi ke organ lain, menyebabkan sumbatan usus yang dapat berujung pada kematian.

Penyakit yang banyak ditemukan di daerah miskin dengan kondisi sanitasi lingkungan dan kebersihan pribadi yang buruk ini, terutama menyerang kelompok anak. Ini karena telur cacing dapat berkembang di tanah dan biasanya anak kecil suka bermain dengan tanah.

Telur cacing juga dapat menginfeksi orang, misalnya apabila warga buang air besar di saluran air dan halaman sekitar rumah dan makan tanpa mencuci tangan. Terlebih lagi di daerah kumuh, banyak orang buang air besar di pinggir sungai atau di kebun. Jika feses orang tersebut mengandung telur cacing, sungai dan kebun pun akan tercemar.

“Apalagi ketika air sungai tersebut digunakan untuk menyiram kebun yang ditanami sayuran. Telur cacing akan menempel di sayuran dan akan tertelan jika sayur tidak dimasak dengan benar,” kata Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan DKI Jakarta dr Ida Bagus Nyoman Banjar.

Lebih jauh Banjar menuturkan, gejala cacingan rupanya sulit terdeteksi jika jumlah cacing yang bersarang dalam tubuh masih sedikit. Biasanya gejala akan timbul justru jika sudah banyak larva cacing yang bersarang dalam tubuh.

Setiap telur cacing pun memiliki cara yang berbeda untuk masuk ke dalam tubuh. Misalnya saja cacing gelang yang bersarang dalam tubuh dengan jumlah telur infektif 100–200.000 per hari, biasanya masuk melalui makanan. Serupa dengan cacing cambuk yang memiliki telur 3.000–5.000 dalam tubuh. Adapun telur cacing tambang berkembang dalam tubuh selain lewat makanan juga melalui kulit.

Upaya pengendalian cacing sebagai jalan untuk mengatasi masalah ini pun perlu digalakkan, yakni melalui pengetahuan masyarakat tentang cacing, cara penularan, gejala, dan pengobatannya. Selain itu, sanitasi lingkungan dan pengobatan massal juga memegang peran penting untuk memutus daur hidup cacing.

Bukan hanya pemerintah, pihak swasta pun sudah sewajarnya mencari jalan terbaik terhadap permasalahan ini. Seperti yang dilakukan oleh Combantrin dengan menyelenggarakan kegiatan edukasi dan sosialisasi pentingnya melakukan langkah-langkah pencegahan dan pengobatan yang dibutuhkan.

***

Sumber: okezone.com

author