Yakinlah, Kau Pasti Bisa!

No comment 897 views


Dulu sekali, seorang teman pernah datang ke rumahku sambil berlinang air mata.  Tentu saja aku bingung dan tak tahu harus gimana karena ketika itu aku pun masih kecil, baru duduk di bangku SD.  Untung ada ibu yang bertanya dan menasihati.  Temanku bilang dia sedih sekali karena tidak diizinkan ibunya untuk mengikuti les vocal di sekolah.    Alasannya, karena menurut ibunya, suara temanku tidak merdu sehingga tidak perlu buang uang dan waktu cuma  untuk latihan vocal.

Saat itu aku cuma tertawa saja mendengar alasan yang lucu menurutku .  Tapi ibu dengan lembutnya berjanji akan mencoba membicarakan keinginan temanku ini dengan ibunya.  Aku memandang ibuku,  bangga dan bahagia karena ibuku tidak pernah melarang aku untuk ikut kegiatan apa pun yang aku suka.  Tentu saja  untuk kegiatan yang baik dan bermanfaat.

Orang tuaku memang selalu mendukung dan memberi semangat setiap impianku.  Ketika masih di bangku Taman Kanak-kanak aku memang nakal sekali.  Bajuku selalu kotor setiap aku pulang sekolah. Apa lagi saat aku dan teman-temanku sedang keranjingan bermain tanah liat.  Tanah liat itu kami bentuk menjadi piring, gelas, vas bunga, dan apapun sesuai yang ada di dalam imajinasi kami.  Bila anak-anak lain dimarahi orang tuanya karena bermain tanah karena mengotori pakaian mereka, ibu dan ayahku malah tersenyum melihat ulahku  bahkan ayah membuatkan aku lemari susun dari kotak kardus untuk memajang hasil karyaku.

Ketika baru masuk sekolah Dasar, ibu memasukkan aku les mengaji di Masjid dekat rumahku.  Suatu hari dalam rangka Nuzulul Qur¢an, ada lomba mengaji untuk anak-anak seusiaku.  Aku ingin ikut lomba tapi aku takut sekali tampil di depan umum.  Ibu menciumku dan berkata : Ibu Yakin, Kau Pasti Bisa.  Dan aku pun berani.

Ketika aku sudah lebih besar, aku ingin sekali menjadi penyanyi. Padahal suaraku tidak merdu dan aku tidak bisa bernyanyi indah.  Tapi ibu dan ayahku tidak pernah mengecilkan harapanku.  Ketika aku bilang aku ingin jadi penyanyi, ibu dan ayah memberi kesempatan padaku untuk bergaya dan bernyanyi di depan mereka.  Ibu bertepuk tangan dan memuji kalau suaraku bagus sekali.  Ayah menantangku apakah aku berani bila menyanyi di depan para tamu dalam acara arisan keluarga yang akan diadakan di rumahku esok harinya. Ketika aku ragu dan malu, ayah dan ibu membisikiku : Yakinlah, Kau Pasti Bisa! Dan aku pun tertantang.

Setelah meranjak remaja aku sadar kalau aku tidak berbakat menyanyi.   Suaraku fals dan aku tidak ingin lagi jadi penyanyi.  Tapi aku pun punya cita-cita lain.  Aku ingin jadi penari dan pelukis.  Ayah pun mengizinkan aku untuk ikut les menari dan melukis di sekolah.  Aku berusaha sungguh-sungguh dan sering memperagakan pelajaran menari di depan ibu dan memperlihatkan hasil lukisanku pada ayah.  Ayah dan ibu memujiku kalau mereka bangga padaku dan akan senang sekali kalau aku terus belajar dan berkarya untuk terus memperbaiki kemampuanku.  Dan aku pun berjanji untuk terus belajar. Ketika ada lomba melukis di sekolah aku ingin sekali ikut serta tapi sekali lagi aku ragu.  Ayah dan ibu memelukku dan berkata : Yakinlah, Kau pasti Bisa!  Dan aku pun berani ikut lomba walau tidak juara sama sekali.

Sampai aku duduk di bangku SMA, aku telah bisa menata apa keinginanku dan bagaimana kemampuanku.  Aku sudah tidak tertarik lagi dengan melukis dan menari.  Aku tahu aku tidak berbakat menari karena  lukisanku tidak indah dan hidup.  Dan aku tidak suka menari karena badanku  ternyata tidak lentur dan luwes.  Tapi aku punya impian lain.  Aku ingin jadi penulis.  Dan ayah mendukungku.  Ayah memperbolehkan aku menggunakan mesin tik miliknya.

Dari sanalah hari-hariku selalu penuh imajinasi.  Aku suka membuat puisi, artikel dan cerita pendek.  Ayah adalah orang pertama yang membacanya.  Menyenangkan sekali berdiskusi dengan  ayah tentang ide menulis ditemani teh hangat dan makanan kecil yang dipersiapkan oleh ibu khusus untukku.  Ayah menyemangati aku untuk memberanikan diri mengirim tulisan ke majalah dinding di sekolahku.  Aku tertarik dan mencoba usul ayahku.  Sungguh menyenangkan ketika setiap minggu selalu ada tulisanku yang nangkring meskipun hanyalah majalah dinding sekolah.  Ayah dan ibukulah yang terus memotivasi aku, merayakan bersama ketika aku menjadi juara menulis mading dan memberi semangat ketika akupun akhirnya menjadi redaktur majalah dinding di sekolahku.

Ketika akan masuk Perguruan Tinggi, ayah dan ibu memberikan kebebasan untukku menentukan fakultas mana yang aku ingini.  Aku tertarik masuk Fakultas Hukum karena aku ingin menjadi Notaris atau pengacara seperti teman ayahku.  Ayah dan ibu mendukung impianku.  Tapi rasa khawatir menyergaapku, mampukah aku di fakultas hukum?  Ayah dan ibu bilang, Yakinlah, kau pasti bisa!

Yakinlah, kau pasti bisa!  Kata-kata itulah yang selalu diucapkan ayah dan ibuku bila aku ragu dan takut.  Kata-kata yang selalu tertanam di hatiku dan akan kupegang bila aku takut tenggelam dalam menentukan langkah hidupku.  Kata-kata yang menyemangatiku sampai aku diterima kerja di tempat yang aku inginkan.  Kata-kata yang mengingatkan aku ketika aku ragu memutuskan untuk menikah.  Kata-kata yang menghiburku ketika dulu aku ragu apakah aku akan menjadi seorang istri dan ibu yang baik.

Yah, Yakinlah, kau pasti bisa!  Kata-kata itu semoga kelak bermanfaat untuk anak-anakku nanti.  AMIN.

—-Ditulis oleh Dewi Cendika ZR

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : sekolahkehidupan.com )

 

author