Yang Kau Butuhkan Tidak Seluas Itu

No comment 378 views

 

Dikisahkan ada seorang pemburu yang telah berjasa menyelamatkan kuda kesayangan Raja dari terkaman harimau. Sebagai hadiah, raja memberikan kepadanya berupa tanah seluas yang bisa ia kelilingi dengan berlari dalam waktu 3 hari.

Sang raja lalu mengajak pemburu tersebut kesebuah padang yang sangat luas, baginda raja itu kemudian berkata, ”Lihatlah padang yang luas ini, semuanya adalah milikku dan aku ingin memberikannya kepadamu sebagi hadiah”.

Si pemburupun sangat senang dengan hadiah dari sang Raja.”benarkah itu wahai baginda raja, semua ini milikku?”

Lalu sang Raja menjawab, ”ya, semua ini akan jadi milikmu. Tapi aku punya satu syarat yang harus kamu penuhi”.

Dengan bersemangat pemburu itupun kembali bertanya kepada sang Raja. ”Apa syarat yang harus hamba lakukan wahai baginda Raja?”

”Syaratnya adalah, kamu harus berlari mengelilingi lahan tanah ini dari tempat aku berdiri dan harus kembali lagi ke sini setelah 2 hari sebelum matahari terbenam. Silahkan kamu berlari semampumu, karena luas lahan tanah yang akan kamu miliki nanti adalah sejauh kemampuanmu berlari mengelilinginya” ucap sang Raja.

Mendengar itu segeralah si pemburu bergegas untuk berlari sejauh-jauhnya. Setelah jauh berlari dia melihat matahari masih  berada diatas di atas kepala dan sang Rajapun masih terlihat dekat olehnya. Si pemburu itupun terus berlari dan terus berlari agar luas lahan yang ia dapatkan nanti lebih banyak.

Terik matahari tidak ia perdulikan, baginya selalu saja masih kurang dan kurang saja apa yang telah ia capai. Sampai akhirnya tibalah hari kedua, si pemburu jatuh tersungkur karena kelelahan, dalam keadaan sakratul maut ia sempat berpikir sejenak. “Alangkah bodohnya aku yang terlalu berambisi untuk mendapatkan seluas-luasnya. Padahal kini setelah aku sekarat tanah yang aku butuhkan hanya seukuran 2 X 1 meter untuk menguburkanku”, lalu pemburu tersebutpun meninggal dunia.

Kawan, itulah refleksi dalam kehidupan ini. Kadang kita terjebak dalam sebuah ambisi yang tanpa batas. Kita dipacu untuk terus bekerja dengan teramat keras. Kita didorong untuk menumpuk harta benda dengan tidak kenal lelah, tidak kenal henti. Sampai-sampai bisa lupa keluarga, lupa kesehatan, bahkan juga lupa akan Tuhan. Seperti si pemburu yang terus berlari dan berlari demi memenuhi ambisi mendapatkan tanah seluas-luasnya. Ingatlah..! jangan sampai di penghujung jalan kita nanti, barulah tersadar betapa sia-sianya semua itu. Namun, semua itu sudah terlambat.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : spicaku.blogspot.com )

author