You What You Are

No comment 610 views

Kalau kita baca atau lihat iklan mobil BMW dikatakan bahwa “You What You Drive”.Dimana pesan yang ingin disampaikan adalah ketika mengendarai mobil bergengsi kita tidak perlu lagi meninggikan mutu diri, sebab mobil itu sudah menunjukan siapa kita. Apapun pekerjaan dan siapapun kita tidak menjadi penting, yang penting kalau sudah mampu menaiki BMW kita akan dihargai karena masuk dalam golongan orang yang hebat dan keren. Mulai dari pandangan dan komentar kagum orang lain sampai kemudahan tempat parkir diberikan kepada mereka yang mengendarai mobil ini. Sedangkan masalah mobil keren itu didapatkan dari hasil korupsi misalnya atau menyewa menjadi tidak penting lagi.

Banyak sekali orang terkecoh dengan gaya hidup seperti itu. Kita menjadi tidak percaya diri kalau belum memakai barang bermerek. Saya sendiri adalah orang yang gaptek dengan teknologi telepon genggam. Yang penting bagi saya adalah fungsinya, bukan fitur canggih dan selalu berubah dengan cepat setiap saat. Selama hampir dua tahun saya memakai telepon genggam yang sama dengan model sederhana. Karena sudah terlalu lama maka warnanya menjadi dekil, apalagi telepon genggam itu berwarna putih. Teman dan staf di kantor selalu berkomentar melihat handphone yang selain sudah berwarna putih tua juga sudah mulai pudar angkanya.

“Ganti dong handphone-nya, masak bos handphone-nya jelek bener!

Ada juga komentar lain, ”Buat apa uang banyak disimpan-simpan, beli dong barang bagus.. Pelit banget.”

Akhirnya oleh kantor, saya dibelikan handphone yang paling canggih dan mahal, yang sebetulnya tidak saya gunakan dengan maksimal. Satu hal yang akhirnya saya suka dari handphone itu adalah saya bisa mengirim SMS tanpa membuat pegal tangan karena bentuknya seperti laptop kecil.

Banyak orang yang tidak percaya diri jika tidak dilengkapi dengan barang mahal dari merek terkenal. Mulai dari rambut yang tertata rapi made in salon, baju model sekarang, tas, perhiasan, jam tangan, dan sepatu semuanya dari merek terkenal. Alasannya adalah tuntutan pekerjaan atau pergaulan yang mengharuskan ia berdandan, melengkapi diri dengan barang merek terkenal yang asli.

Golongan yang mendewakan hal ini adalah golongan berada yang menilai ke-bonafide-an seseorang adalahdari apa yang dipakainya. Mereka akan tahu jika barang yang dipakai seseorang palsu dan ini akan membuat kita susah untuk masuk ke lingkungan mereka. Bayangkan berapa anggaran yang harus dialokasikan untuk mendapatkan predikat ‘bonafide’.

Dimana kita makan juga menjadi ukuran ke-bonafide-an seseorang. Bagi yang memposisikan diri sebagai profesional muda, ga keren kayak-nya kalau makan di kantin atau pesan di kantor. Biasanya pada jam makan siang, berbondong-bondong mereka pergi mencari makan siang di kafe yang banyak berada di sekitar perkantoran. Dengan dalih untuk memperluas networking, pulang dari kantor mereka akan menghabiskan waktuuntuk clubbing atau hanya sekedar kongkow dan ngobrol di kedai kopi. Uang dan energi mereka seakan tidak terbatas, rumah hanya menjadi sekedar tempat untuk numpang tidur.

Kalau semua dilakukan dengan dukungan pandapatan yang jelas dan besar, hal ini menjadi tidak masalah.Yang menjadi masalah adalah jika lebih besar pasak daripada tiang, apalagi jika gaya hidup semu itu ditopang oleh hutang dari kartu kredit. Dalam tiga bulan pertama mungkin kita bisa mempertahankan gaya hidup seperti ini, tapi memasuki bulan keempat cashflow menjadi kacau. Hal ini dikarenakan semua uang dipakai untuk membayar tagihan minimum kartu kredit ditambah dengan bunganya yang mencekik leher. Semua gaya hidup yang kelihatan glamour hanya semu belaka akan berakhir dengan malapetaka.

Hidup dengan lilitan hutang adalah mimpi buruk, bukan saja untuk kita, tapi juga keluarga dan lingkungan kantor. Bukan hanya si pengemplang hutang saja yang akan dikejar oleh debt collector tapi juga orang rumah dan orang kantor akan repot menghadapi hal ini. Mereka tidak segan untuk menelpon dan menggunakan kata yang tidak sopan sampai mengancam kepada siapa saja yang dianggap menyembunyikan keberadaan kita.

Saya punya teman yang sampai trauma karena pada suatu hari TV, kulkas sampai sofa diangkut oleh paradebt collector tersebut. Ada juga teman lain yang mertuanya sampai stroke dan harus masuk rumah sakit berbulan-bulan karena kaget mendapati menantunya yang tinggal serumah mempunyai hutang yang begitu banyak. Yang lebih mengerikan, ada juga yang harus berakhir di penjara karena menipu di berbagai tempat untuk berhutang dan tidak dapat melunasinya.

Saya sendiri termasuk tipe orang yang susah menabung, rasanya gatal kalau melihat uang ditangan langsung dibelikan barang yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan. Berdasarkan pengalaman pribadi saya selalu menikmati keadaan untuk memiliki barang yang mahal dengan cara berhutang. Jika cicilan sudah lunas maka langsung otak ini berputar mau hutang apa lagi ya? Mulai dari panci, microwave, TV layar lebar sampai mobil adalah hasil dari berhutang.

Rasanya lega dan bangga bisa memiliki barang bagus serta mahal dari hasil kerja keras menyisihkan uang tiap bulan untuk mencicil. Saking seringnya berhutang dengan catatan pembayaran cicilan yang sangat bagus, maka tawaran hutang pun selalu mengalir lancar. Saya adalah “pelanggan yang dapat dipercaya dan memenuhi kriteria bonafide”. Begitu cicilan terakhir lunas langsung ditawarkan hutang baru lagi, baik dari bank untuk Kredit Tanpa Agunan, sampai perusahaan leasing mobil. Saking seringnya membeli mobil dengan cara kredit, perusahaan leasing langganan saya menjadi banyak dan mereka dengan senang hati meluluskan permintaan saya membeli mobil apa saja tanpa harus melengkapi persayaratan administrasi apapun.

Menurut saya tidak ada yang salah dengan berhutang, asal dilakukan dengan bijaksana dan sesuai dengan kemampuan kita. Jaga reputasi sebagai penghutang yang dapat dipercaya. Jadi, jangan terkecoh dengan jargon “You What You Drive”, ”You What You Wear”, atau “ You What You Have”, apalagi kalau kita tidak mampu.Penting bagi kita untuk mengenal diri sehingga dapat menilai dengan jelas siapa diri kita, apa yang kita butuhkan, dan bagaimana kemampuan kita. “You What You Are”, kita apa adanya adalah lebih penting dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Oleh: Iftida Yasar

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author